Pembantaian Terkejam di Riau Masa Perang Kemerdekaan, Rengat Berdarah

Rabu, 22 Januari 2020 14:06
Pembantaian Terkejam di Riau Masa Perang Kemerdekaan, Rengat Berdarah

Operasi Militer Belanda Paling Berdarah di Sumatera – Historia.id

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Pagi itu, 5 Januari 1949, suasana Kota Rengat, Indragiri Hulu sangat tenang. Penduduk seperti biasa mulai beraktivitas berdagang ataupun berbelanja di pasar.

Namun, tiba-tiba dari arah tenggara kota muncul pesawat tempur jenis P-51 Mustang berbendera Belanda. Pesawat ini tanpa ampun menembaki semua yang ada di darat, rumah-rumah penduduk ataupun pasar.

Tak selesai disitu, pesawat tempur sejak Perang Dunia II ini juga menjatuhkan bom di semua tempat, baik jalanan ataupun rumah penduduk. Seisi kota ditembaki tanpa luput satupun.

Baca: Ide Jualan Kerang Cocol 5 Rasa Dari Sang Istri yang Pintar Masak

BACA JUGA:  Dianggap Sebagai Hantu Hukum, Mahasiswa dan Rakyat Minta Kajari Kuansing Dicopot

Hujanan peluru dan bom ini berlangsung hingga jelang tengah hari. Korban-korban sudah bergelimpangan di seluruh penjuru kota.

Ketika rakyat Rengat mengira serangan sudah usai, muncul 7 pesawat pengangku pasukan jenis Dakota. Pesawat ini menerjunkan ratusan pasukan elit Belanda, Korps Speciale Troepen (KST).

Tak tanggung-tanggung, pemimpin pasukan elit ini adalah Letnan Rudy de Mey. Dia adalah orang kepercayaan Westerling, sang pembantai puluhan ribu penduduk di Sulawesi Selatan.

Tanpa ampun, pasukan KST menembaki semua penduduk yang ditemuinya. Bahkan, penduduk yang sembunyi-sembunyi di parit juga ditembaki.

Sejarawan Riau, Suwardi MS kepada bertuahpos.com menuturkan bahwa kekejaman pasukan KST ini tak sampai disitu. Rakyat Rengat disuruh berbaris di tepi Sungai Indragiri (Kuantan untuk penamaan di Kabupaten Kuantan Singingi), kemudian ditembaki hingga mayatnya jatuh ke sungai.

BACA JUGA:  Kepmenkes Terbaru Dianggap Melemahkan Metode Penanganan Covid-19 di Riau

“Sungai Indragiri berubah menjadi merah. Bahkan, sampai beberapa waktu, tak ada yang mau makan ikan sungai karena banyaknya mayat di sungai ini,” ujar Suwardi.

“Inilah yang kemudian kita kenal dengan peristiwa Rengat Berdarah,” pungkas dia.

Dalam waktu singkat, terhitung sejak operasi dengan sandi Operasi Lumpur (Mud Operation) ini dimulai pada pukul 06.00 WIB, Belanda berhasil menguasai seluruh kota pada pukul 16.00 WIB. (bpc2)

Berita Terkini

Minggu, 01 Agustus 2021 20:08

10 Ciri – Ciri Pinjol Ilegal Versi OJK

Ciri – ciri Pinjol Ilegal

Minggu, 01 Agustus 2021 19:32

BMKG: Potensi Hujan Merata di Riau Malam Ini

Cuaca Riau

Minggu, 01 Agustus 2021 16:30

Varian Delta Sebabkan Kasus Corona Dunia Naik Hingga 80%

Covid-19 Dunia

Minggu, 01 Agustus 2021 15:05

Karhutla di Dumai dan Kuala Cenaku Masih Belum Padam

Karhutla Riau

Minggu, 01 Agustus 2021 14:39

Ginting: Saya Tak Punya Waktu Memikirkan Kekalahan Ini

Olimpiade 2020

Minggu, 01 Agustus 2021 13:31

Saat Amerika dan Aceh Berperang

Aceh

Minggu, 01 Agustus 2021 13:18

Polisi Sebut Sudah Terima Laporan Terkait Kasus  BRI Life

BRI Life

Minggu, 01 Agustus 2021 11:48

Perselisihan Rusia dengan Facebook Kian Meluas

Rusia, WhatsApp, Facebook