Ini Respon Warga di Pekanbaru Terkait Logo PDIP di Sila Keempat di SBO TV

Rabu, 09 September 2020 13:16
Ini Respon Warga di Pekanbaru Terkait Logo PDIP di Sila Keempat di SBO TV

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Warga di Pekanbaru ternyata cukup cepat merespon soal kemunculan logo PDIP pada Sila keempat yang ditayangkan SBO TV untuk pembelajaran online. Kabar ini tersiar ke seluruh penjuru negeri karena menjadi perbincangan hangan para netizen di sosial media.

Seorang warga di Pekanbaru menilai, munculnya logo PDIP dalam siaran televisi lokal di Surabaya itu dianggap sebuah permainan ‘politik terselubung’. Jika memang benar hal demikian, maka partai berlambang banteng moncong putih itu bisa saja memanfaatkan segala cara untuk mengkampanyekan diri mereka menjelang Pilkada serentak 2020.

Advertisement

“Jika memang benar seperti heboh di sosial media, maka cara yang dipakai kurang elegan menurut saya. Semakin PDIP berpolemik, semakin turun elektabilitasnya,” ujar Paslah (40), warga yang bedomisili di Kecamatan Tampan, Pekanbaru ini kepada Bertuahpos.com, Rabu, 9 September 2020.

Menurutnya, politik tidak seharusnya masuk ke dalam dunia pendidikan, apalagi dalam kegiatan belajar mengajar siswa. Pemerintah seharusnya lebih peka dalam hal menjaga dunia pendidikan agar tidak disusupi kepentingan politik.

Baca: SMPS Islam Terpadu Mutiara Gelar Perpisahan Secara Virtual

Warga Surabaya, di Pekanbaru, Herri (25) juga menyayangkan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Elit politik seharusnya bisa memilih cara-cara terpuji dalam menggunakan strategi politik, tanpa harus menyusup di dunia pendidikan.

“Logo PDIP yang tampil pada Sila Keempat dalam tayangan SBO TV itu, sesuatu yang sangat disayangkan. Jika tidak segera diambil sikap, maka tidak menutup kemungkinan hal itu juga terjadi di daerah lain, termasuk di Riau,” katanya.

Para warga di Pekanbaru ini mengakui mengetahui kabar ini dari sosial media. Meski di Riau belum terjadi hal yang sama. Mereka berharap pihak terkait dan elit politik bisa bersikap lebih santun dalam berpolitik. Sebab ada banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik elit partai.

Heboh di Sosial Media

Seperti diketahui, media sosial dihebohkan dengan tayangan SBO TV, Rabu 9 September 2020. Dalam tayang untuk pembelajaran online tersebut, pihak SBO TV menggunakan lambang PDIP untuk lambang Sila Keempat.

Awalnya, seorang guru menjelaskan sila-sila Pancasila, mulai sila pertama hingga sila kelima. Namun, di sila keempat, alih-alih menampilkan lambang banteng, SBO TV malah menayangkan logo PDIP.

Netizen pun diramaikan oleh kejadian ini. Mereka mengkritisi kesalahan yang dilakukan SBO TV. “Sejak kapan sila ke empat dilambangkan logo PDIP,” tulis akun @muhammad_indra_gunawan.

“Wah, merubah Pancasila tuh. Masa lambangnya jadi lambang partai,” tulis akun @muhammad_sulindavin.

Simpang Siur Klarifikasi SBO TV

Mengutip detikcom, pihak SBO TV pun memberikan klarifikasi atas viralnya logo PDIP pada sila keempat dalam belajar daring. Meski tidak membantah dan tidak membenarkan.

“Hoax, maklum mungkin orang-orang iseng. Tapi setiap pembelajaran di upload di YouTube. Di menit 16.38 bukan logo itu (PDIP),” kata salah satu pihak SBOTV Nur Ulfainyy saat dikonfirmasi detikcom, selasa kemarin.

Karena menganggap hal tersebut tidak benar, tim SBO TV melakukan tindakan. Timnya merepost link YouTube berjudul “SBOTV GURUku kelas 1 Tema: Tema Kegiatanku, Sub Tema, 09SEPTEMBER2020” ke akun twitter @chandra_ds.

Namun informasi terbaru dari pihak SBO TV, yang diwakili oleh Wawan Andrianto membenarkan adanya logo PDIP dalam materi yang disiarkan langsung pada Selasa lalu. Setelah tayang di TV, SBO TV juga menayangkan video pembelajaran daring itu di YouTube dan streaming.

“Memang benar. Sebenarnya kita awal program berjalan, banyak curhat wali murid tentang sekolah daring yang memberatkan. Akhirnya kita fasilitasi dengan memberi slot tiga jam untuk pendidikan belajar mengajar di tingkat SD kelas 1-6 mulai hari Senin-Jumat, jamnya jam 07.00 WIB. Selain tayang di TV kita juga menayangkan di YouTube dan streaming,” jelas Wawan kepada wartawan di Humas Pemkot Surabaya, Rabu, 9 September 2020.

“Kita biasanya ada QC terkait proses editing materi video atau teknis di studio. Proses pengambilan gambar tapi untuk konten pembelajaran materi itu haknya penyaji atau dispendik,” ujarnya. (bpc2)