BERTUAHPOS — Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai potensi lonjakan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru atau Nataru. Lonjakan inflasi sangat mungkin terjadi setelah berkaca pada grafik histori pergerakan inflasi, termasuk di Provinsi Riau.
BPS mencatat, secara historis tekanan inflasi pada bulan Desember cenderung meningkat seiring melonjaknya permintaan masyarakat, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kata Direktur Statistik Harga BPS Windhiarso Ponco Adi, kenaikan harga terjadi hampir setiap tahun saat momen Nataru akibat meningkatnya konsumsi rumah tangga.
“Secara historis, pada bulan Desember tekanan inflasi biasanya menguat, didorong adanya momen HBKN Natal dan Tahun Baru,” ujar Windhiarso dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar secara daring pada 22 Desember 2025.
Berdasarkan data historis periode 2021 hingga 2024, kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu mengalami inflasi pada bulan Desember. Inflasi tertinggi tercatat pada Desember 2021 yang mencapai 1,61% dengan andil inflasi sebesar 0,41%. Pada periode tersebut, komoditas cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,11%.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas yang kerap memberikan andil inflasi pada Desember antara lain telur ayam ras, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan tomat.
Windhiarso menilai kondisi inflasi pada November 2025 menjadi sinyal kewaspadaan. Pasalnya, tren historis menunjukkan tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat pada Desember. “Itu semacam peringatan dini karena secara historis tekanan harga terus menguat dan cenderung meningkat di bulan Desember,” katanya.
BPS juga mencatat pada minggu ketiga Desember 2025, sebanyak 37 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Hanya satu provinsi yang mencatatkan penurunan IPH dibandingkan bulan sebelumnya.
Komoditas utama penyumbang kenaikan IPH di sebagian besar provinsi tersebut antara lain cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan bawang merah.
Meluasnya wilayah yang mengalami kenaikan IPH menunjukkan tekanan harga yang semakin kuat menjelang akhir tahun, sehingga membutuhkan langkah antisipatif dari pemerintah daerah dan instansi terkait.***









