BERTUAHPOS.COM — Harga emas dunia merosot tajam pada Jumat, 23 Oktober 2026, hingga mendekati US$4.000 per ons, seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan global.
Aksi jual saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mendorong pedagang melepas logam mulia untuk menutup kerugian di pasar saham, sementara kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.
Dikutip dari EmitenNews, Penurunan tersebut membawa harga emas mendekati level terendah dalam hampir tiga bulan.
Pergerakan ini terjadi ketika investor menghadapi ketidakpastian mengenai besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan AI, potensi penambahan utang, serta arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
Tekanan pasar saham meningkat sepanjang pekan setelah rencana Meta Platforms untuk menambah belanja modal kembali memicu kekhawatiran investor.
Pasar mencermati kemungkinan perusahaan teknologi meningkatkan penarikan utang untuk membiayai proyek-proyek AI, di tengah keraguan mengenai keberlanjutan investasi besar di sektor tersebut. Kekhawatiran itu ikut memengaruhi perdagangan emas.
Ketika harga saham teknologi mengalami tekanan, sebagian pedagang memilih menjual logam mulia untuk menutup kerugian di instrumen lain.
Kondisi tersebut menambah tekanan jual pada emas, yang selama ini menjadi salah satu aset yang diperdagangkan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Faktor lain datang dari pasar energi. Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat, kenaikan harga minyak mentah dunia mempertebal kekhawatiran bahwa inflasi global akan bertahan lebih lama.
Situasi ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat, dapat mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat tinggi untuk periode yang lebih panjang.
Ekspektasi suku bunga menjadi faktor penting bagi pergerakan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Ketika pasar memperkirakan suku bunga bertahan tinggi, tekanan terhadap daya tarik emas dapat meningkat dibandingkan instrumen yang menawarkan imbal hasil. Dalam kondisi tersebut, perubahan ekspektasi kebijakan moneter ikut diperhatikan pelaku pasar.
Meski demikian, prospek suku bunga tidak sepenuhnya bergerak ke arah yang merugikan emas. Keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi AI yang selama ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai menahan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut.
Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi membatasi tekanan lanjutan terhadap harga emas. Namun, kondisi pasar tetap dipengaruhi oleh tarik-menarik antara aksi jual akibat kebutuhan likuiditas, kekhawatiran inflasi yang dipicu harga minyak, serta perkiraan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Rencana penambahan belanja modal Meta Platforms menjadi salah satu pemicu kekhawatiran terbaru di pasar saham teknologi. Investor mempertimbangkan apakah belanja besar untuk AI akan terus menopang pertumbuhan perusahaan atau justru meningkatkan kebutuhan pendanaan dan risiko utang.
Pada saat bersamaan, lonjakan harga energi membuat prospek inflasi kembali menjadi perhatian. Jika tekanan harga bertahan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang dapat membebani aset yang tidak menghasilkan bunga, termasuk emas.
Data Trading Economics pada Jumat, 23 Oktober 2026, menunjukkan bahwa harga emas dunia mengalami tekanan di tengah kombinasi faktor tersebut.
Harga logam mulia itu mendekati US$4.000 per ons, sementara keraguan terhadap keberlanjutan investasi AI mulai membatasi perkiraan kenaikan suku bunga lebih lanjut.*








