BERTUAHPOS.COM — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa defisit transaksi berjalan triwulan II-2026, tercatat mengalami meningkat 3,3 persen dari PDB. Walau begitu, stabilitas di Sektor Jasa Keuangan dinilai masih tetap terjaga.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan defisit transaksi berjalan yang melebar terjadi seiring masih berlanjutnya defisit neraca perdagangan pada Juni 2026.
“Kondisi ini menjadi salah satu perhatian utama OJK dalam memitigasi risiko eksternal,” katanya lewat keterangan resmi.
Dari sisi global, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sumber ketidakpastian itu. Konflik di Iran yang belum mereda serta tertutupnya Selat Hormuz mengganggu jalur distribusi energi dunia.
“Gangguan pada jalur distribusi tersebut memicu volatilitas harga minyak dan komoditas. Tekanan inflasi global pun tetap tinggi dan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya,” ujarnya.
Fenomena El Nino yang berkepanjangan juga memperberat kondisi. Kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan dunia meningkatkan risiko gagal panen serta lonjakan harga pangan.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global mayoritas termoderasi. AS mencatat pertumbuhan di bawah ekspektasi dengan pasar tenaga kerja yang melemah.
Tiongkok mengalami perlambatan PDB menjadi 4,3 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Sektor produksi dan permintaan domestik Tiongkok menunjukkan sinyal pelemahan berkelanjutan.
Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju terus naik. Hal itu didorong kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers serta kebijakan moneter restriktif.
Aliran dana nonresiden keluar dari pasar keuangan negara emerging markets masih berlangsung. Kondisi ini turut menambah tekanan bagi ekonomi berkembang termasuk Indonesia.
Namun, perekonomian domestik masih menunjukkan daya tahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan.
Angka tersebut sedikit melambat dari triwulan I-2026 yang sebesar 5,61 persen. Investasi dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, dibarengi konsumsi rumah tangga yang solid.
Inflasi Agustus 2026 berada di 3,19 persen secara tahunan. Sementara itu, aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi dengan PMI 49,8.
Di tengah berbagai indikator tersebut, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap solid. Koordinasi bersama otoritas terkait terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi risiko lanjutan.
“OJK berkomitmen menjaga ketahanan sistem keuangan nasional. Seluruh instrumen pengawasan dimaksimalkan untuk menghadapi tantangan eksternal yang masih tinggi,” katanya.









