BERTUAHPOS.COM — Inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen. Angka ini nyaris menyentuh batas atas sasaran inflasi pemerintah yang dipatok 2,5 persen plus minus 1 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kewaspadaan terhadap fenomena El Nino. Ia menilai anomali cuaca ini dapat menekan produksi pangan dan mengganggu distribusi.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Selasa (1/9/2026), Purbaya menjelaskan risiko berantai dari El Nino. Gangguan pasokan pangan dan energi berpotensi memicu kenaikan harga.
“Kita juga mewaspadai dampak fenomena El Nino terhadap sektor pangan dan energi,” ucapnya.
Ia menambahkan, “Gangguan terhadap produksi dan distribusi pangan serta pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga hingga memerlukan langkah antisipatif yang tepat sejak dini.”
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sumber tekanan utama. Kelompok ini mencatat inflasi 3,86 persen dengan andil 1,13 persen terhadap inflasi tahunan.
Komoditas daging ayam ras memimpin kontribusi dengan andil 0,24 persen. Disusul ikan segar 0,22 persen dan minyak goreng 0,13 persen.
Beras menyumbang 0,12 persen terhadap inflasi tahunan. Sigaret kretek mesin memberikan andil 0,08 persen.
Cabai rawit dan daging sapi masing-masing menyumbang 0,07 persen dan 0,05 persen. Adapun sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin, serta cabai merah masing-masing tercatat 0,03 persen.
Sementera itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa volatile food mengalami inflasi 4,06 persen pada Agustus. BI bersama pemerintah menggencarkan pengendalian melalui TPIP dan TPID.
Ia menegaskan pentingnya antisipasi risiko cuaca. “BI juga mengantisipasi risiko cuaca yang akan mempengaruhi panen raya pangan,” katanya.
Faisal Rachman dari Bank Permata menilai tekanan inflasi sisi penawaran masih akan berlanjut. Ia memproyeksikan inflasi akhir tahun mencapai 3,13 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi 2025 yang sebesar 2,92 persen. Namun, proyeksi ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi tahunan.
“Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini, kami memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir 2026, dibandingkan dengan 2,92 persen pada 2025,” ujar Faisal.
Faisal juga menyoroti risiko kenaikan harga energi global akibat ketegangan geopolitik. Jika berlanjut, pemerintah bisa terdorong menaikkan harga energi bersubsidi.
Setiap kenaikan harga energi bersubsidi dinilai memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga acuan BI tambahan. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis juga berpotensi meningkatkan permintaan pangan.
“Selain itu, potensi terjadinya El Nino Godzilla perlu dipantau secara ketat karena dapat mengganggu produksi pertanian, meningkatkan harga pangan, dan memperkuat tekanan inflasi,” terang Faisal.









