Terlanjur Mudik, Wajib Karantina, Tak Ada Toleransi

Senin, 10 Mei 2021 11:56
Terlanjur Mudik, Wajib Karantina, Tak Ada Toleransi

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Satgas penanganan Covid-19 tidak memberi toleransi kepada masyarakat yang sudah terlanjur melaksanakan mudik. Dengan demikian, mereka wajib untuk melakukan karantina tanpa terkecuali.

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo mengatakan, langkah ini dilakukan agar penyebaran Covid-19 dapat dicegah dan tidak terjadi seperti tsunami Covid-19 di India.

Advertisement

“Kalau telanjur sudah mudik, tidak ada pilihan lain, wajib karantina. Apa pun alasannya wajib karantina, tak boleh tidak,” kata Doni saat mengunjungi Pelabuhan Merak, Banten, Minggu 9 Mei 2021, dikutip dari kompas.com.

Doni mengatakan, bisa jadi orang yang datang ke kampung membawa virus corona sehingga menularkan virus ke keluarga bahkan warga satu kampung.

Baca: Gempa 4,0 Magnitudo Guncang Bukittinggi Malam Ini

BACA JUGA:  Doni Monardo Yakin Terpapar Covid-19 Saat Makan

“Karena bisa jadi mereka orang tanpa gejala, dan kalau ini dibiarkan, maka yang datang bisa menulari satu kampung, dan terbukti di beberapa tempat sudah ada kasus,” ujar Doni.

Doni yang juga Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, ada 7 persen warga Indonesia yang nekat mudik meski pemerintah melarangnya.

Untuk itu, jajaran Polri, TNI, pemda, Satgas Covid-19 dan instansi lainnya diminta terus mengingatkan kepada masyarakat agar bersabar dan tidak mudik.

“Setiap jam, setiap menit, setiap detik mengingatkan, jangan ada pergerakan orang, karena Covid-19 ini ditulari oleh manusia, kita berpotensi saling menulari,” kata Doni.

Menurut Doni, keputusan larangan mudik murni dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19. Doni mengatakan, pada Januari, Februari, kasus aktif Covid-19 di India jauh di bawah kasus aktif di Indonesia. Pada saat itu, Indonesia memiliki 176.000 kasus, sementara India 150.000 kasus.

“Tetapi setelah mereka melonggarkan aktivitas kegiatan keagaman, olahraga, kegiatan politik, hiburan, dan acara-acara tradisi, tak perlu menunggu dua bulan, hanya dalam waktu beberapa minggu seluruh kasus aktif meningkat, angka kematian pun tertinggi di dunia hari ini. Jangan sampai kita mengalami seperti itu,” kata Doni. (bpc2)