BERTUAHPOS — Mata uang rupiah anjlok mendekati Rp17.000/dolar AS, meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengklaim bahwa arus modal asing atau capital inflow ke pasar keuangan domestik tercatat cukup deras.
Perdagangan Selasa sore, 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah melemah di level Rp16.956/dolar AS, turun hingga 1,5 poin dari hari sebelumnya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah di tengah derasnya capital inflow sebagai sebuah anomali yang perlu dijelaskan oleh Bank Indonesia (BI)—selaku otoritas kebijakan moneter dan nilai tukar.
“Tanya saja ke bank sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk besar, kenapa rupiah melemah? Itu otoritas bank sentral, saya tidak bisa intervensi kebijakan nilai tukar,” ujarnya seperti dilansir Bertuahpos dari Investor.id.
Secara teori, masuknya dana asing seharusnya menambah suplai dolar AS di dalam negeri sehingga menopang penguatan rupiah. Dari sisi likuiditas valas, Indonesia tidak berada dalam kondisi kekurangan dolar.
Derasnya modal asing tercermin dari kinerja pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di atas level 9.100.
IHSG pada perdagangan 20 Januari 2026 ditutup menguat tipis 0,01% atau 0,83 poin ke level 9.134,7. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp6,5 miliar. Secara year to date (ytd), asing masih membukukan net buy mencapai Rp5,44 triliun.
“Kalau dilihat dari sisi suplai dolar, seharusnya kita tidak kekurangan. Dari sisi saya, ekonomi akan terus diperbaiki agar rupiah ke depan cenderung menguat,” kata Purbaya.
Walau begitu, Purbaya melihat pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam batas aman. Depresiasi sekitar 2–3% secara year to date dianggap masih wajar dan belum memberikan tekanan signifikan terhadap fundamental ekonomi nasional. “Sistem kita terjaga. Jadi kemungkinan dampaknya ke ekonomi akan minimum,” ujarnya.***









