DPR menyoroti dugaan Garuda Indonesia jual beli jam penerbangan prime time. Mengapa maskapai itu absen di jam favorit? Berikut ini respon manajemen.
BERTUAHPOS – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merespons dugaan adanya praktik jual beli jam penerbangan favorit atau prime time di industri maskapai nasional.
Dugaan tersebut sebelumnya disampaikan oleh anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, yang menilai jam penerbangan tertentu bisa diperjualbelikan dengan nilai miliaran rupiah.
Direktur Niaga PT Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, menegaskan pihaknya tidak melakukan praktik tersebut. Ia menjelaskan, persepsi publik soal absennya Garuda di jam penerbangan tertentu terjadi karena keterbatasan jumlah armada.
“Ini terkait ekspektasi masyarakat terhadap kehadiran Garuda di waktu-waktu prime time. Dengan jumlah armada yang terbatas, frekuensi penerbangan ke sejumlah destinasi memang berkurang. Hal ini bisa menimbulkan anggapan bahwa Garuda tidak hadir di jam favorit,” kata Reza di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, 23 September 2025, dikutip dari CNBC Indonesia.
Reza menambahkan, manajemen Garuda Indonesia selalu menjalankan prosedur pengajuan slot penerbangan sesuai ketentuan. Pihaknya juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jadwal penerbangan agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
“Kami melihat proses pemajuan slot atau rute penerbangan ini disupport penuh dan dijalankan sesuai aturan. Kami akan terus mengkaji agar jadwal penerbangan lebih optimal,” jelasnya.
Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menyampaikan kecurigaan adanya mafia penerbangan yang memperjualbelikan jam terbang. Hal itu ia sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi ketika mendapati Garuda maupun Citilink tidak tersedia pada jam penerbangan favorit, sementara maskapai swasta justru ada.
“Saya curiga ketika hendak terbang di jam favorit, Garuda dan Citilink tidak ada. Informasi yang saya dapat, jam-jam itu diperjualbelikan. Betul atau tidak?” ujar Mufti.
Mufti menegaskan, jika benar terdapat praktik mafia penerbangan, pihaknya akan mendorong pemerintah serta DPR untuk membantu Garuda Indonesia mendapatkan haknya. Ia menilai maskapai pelat merah itu harus diberi akses penuh ke slot penerbangan prime time.
“Jangan takut. Kami akan bantu agar Garuda bisa mendapatkan jam-jam penerbangan terbaik,” pungkasnya.
Kasus dugaan jual beli slot penerbangan ini menyoroti tata kelola industri penerbangan di Indonesia. Publik kini menunggu langkah pemerintah dan DPR untuk memastikan pengelolaan slot penerbangan berjalan transparan serta adil bagi semua maskapai.***









