BERTUAHPOS.COM — Burung Puffin, burung laut yang dikenal dengan paruh berwarna mencolok dan penampilannya yang khas, menghadapi tekanan akibat perubahan iklim. Berkurangnya sumber makanan, pencemaran laut, serta gangguan habitat membuat burung ini, kini berada dalam ancaman kepunahan.
Namun, perkembangan teknologi pelacakan dan sejumlah upaya konservasi memberi peluang bagi ilmuwan untuk memahami pergerakannya dan memperbaiki perlindungan spesies tersebut.
Dilansir dari The Guardian, Senin, 19 Oktober 2026, sejarawan alam Stephen Moss mengangkat persoalan itu dalam pembahasan mengenai masa depan puffin yang terbit pada 17 Oktober 2026.
Ia memaparkan bahwa ancaman terhadap burung laut ini bukan hanya berasal dari pemanasan global, tetapi juga dari aktivitas manusia yang mengubah kondisi laut dan kawasan berkembang biak.
Perubahan suhu laut dapat menggeser persebaran ikan kecil, termasuk sand eel yang menjadi salah satu sumber makanan puffin. Ketika ikan berpindah ke perairan yang lebih dingin atau jumlahnya menurun di sekitar koloni berkembang biak, puffin harus menempuh jarak lebih jauh untuk mencari makan.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap peluang anak burung bertahan hidup. Induk yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan makanan memiliki kesempatan lebih terbatas untuk memenuhi kebutuhan anaknya hingga siap meninggalkan sarang.
Ancaman lain datang dari cuaca ekstrem. Badai musim gugur dan musim dingin yang semakin sering atau intens dapat meningkatkan kematian burung di luar musim berkembang biak. Pencemaran minyak dan plastik, gangguan di lokasi koloni, serta predator juga menekan keberhasilan perkembangbiakan puffin.
Moss mengingatkan bahwa perkiraan penurunan populasi hingga sembilan dari setiap sepuluh puffin sebelum pertengahan abad ini perlu diperlakukan secara hati-hati. Meski proyeksi tersebut dinilai mungkin terlalu pesimistis, penurunan populasi yang serius telah terjadi di sejumlah kawasan.
Peristiwa pada awal 2026 turut menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi burung laut. Setelah badai musim dingin, ratusan puffin dan burung laut lainnya ditemukan mati atau sekarat di pantai Cornwall, Skotlandia, serta Inggris timur laut. Organisasi konservasi juga melaporkan lebih dari 20.000 burung terdampar, sebagian besar puffin, di pesisir Atlantik Prancis, Spanyol, dan Portugal.
Samuel Wrobel, pejabat senior bidang kelautan di RSPB, menyebut kejadian tersebut sebagai peristiwa kematian massal terburuk dalam lebih dari satu dekade, sejak bencana pada musim dingin 2013–2014. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena banyak burung kemungkinan mati di laut dan tidak pernah ditemukan.
Di tengah tekanan tersebut, teknologi pelacakan memberi peneliti gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan puffin di luar musim berkembang biak. Sejak dekade 1980-an, kemajuan teknologi memungkinkan ilmuwan mengumpulkan informasi mengenai pergerakan, perilaku, persebaran, dan lokasi mencari makan burung laut yang sebelumnya sulit diamati.
Peter Harrison, pengamat dan peneliti burung laut, melihat perkembangan ini sebagai salah satu alasan untuk tetap optimistis. Ia juga menyoroti kemenangan hukum yang menghentikan penangkapan ikan sand eel secara industri di perairan Inggris dan Skotlandia sebagai langkah yang mendukung perlindungan sumber makanan puffin.
Upaya pengumpulan data juga diperkuat melalui BirdLife Seabird Tracking Database yang dikembangkan BirdLife International pada 2004. Basis data tersebut menghimpun informasi pelacakan burung laut ketika mereka berada jauh dari koloni berkembang biak, sehingga membantu peneliti memetakan pergerakan dan kebutuhan habitatnya.
Data tersebut memungkinkan identifikasi enam jalur pergerakan laut yang sebelumnya belum dikenali. Informasi yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk penelitian dan konservasi burung laut oleh para ilmuwan BirdLife dan mitra mereka di berbagai negara.
Stephen Kress, ilmuwan yang berfokus pada pemulihan puffin di Amerika Serikat, menilai penurunan populasi burung laut berkaitan langsung dengan aktivitas manusia. Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan mendukung program pemulihan spesies.
Ia menekankan bahwa tanpa teknik pemulihan yang dikembangkan, upaya konservasi mungkin hanya akan mencatat kepunahan puffin, bukan pemulihan populasinya.
Sumber: The Guardian








