BERTUAHPOS.COM — Ekuador resmi terpilih sebagai tuan rumah Pertemuan Para Pihak ke-18 Konvensi Keanekaragaman Hayati atau COP18 CBD pada 2028 setelah mengungguli Panama dalam pemungutan suara. Pengambilan suara berlangsung di Sidang Pleno COP17 pada 31 Oktober 2026 dini hari waktu Yerevan, Armenia.
Ekuador memperoleh 55 suara, unggul tipis dua suara atas Panama yang meraih 53 suara. Dengan hasil tersebut, Quito, ibu kota Ekuador, ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan COP18 CBD pada kuartal IV/2028.
Keputusan itu juga mencakup penyelenggaraan pertemuan ke-13 Para Pihak Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati. Selain itu, agenda yang sama memuat pertemuan ke-7 Para Pihak Protokol Nagoya mengenai akses terhadap sumber daya genetik dan pembagian manfaat yang adil dan seimbang dari pemanfaatannya.
Dalam keputusan yang diadopsi pada Sidang Pleno, para pihak meminta Sekretaris Eksekutif CBD berunding dengan Pemerintah Ekuador. Perundingan itu untuk menyusun perjanjian negara tuan rumah yang ditargetkan rampung dan ditandatangani paling lambat enam bulan sebelum pertemuan berlangsung.
Keputusan tersebut juga mengundang negara-negara di kawasan Afrika untuk menyampaikan penawaran sebagai tuan rumah COP19 CBD pada 2030. Penawaran itu berlaku untuk gelaran dua tahun setelah COP18, yang akan diselenggarakan bersama pertemuan para pihak Protokol Cartagena dan Protokol Nagoya berikutnya.
Sementara itu, Sidang Pleno COP17 berjalan alot dan masih berlangsung hingga Sabtu pagi pukul 08.00 waktu Yerevan. Rapat pleno itu melampaui jadwal penutupan yang semula ditetapkan pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Berdasarkan laporan Common Initiatives dari lapangan, para delegasi masih bernegosiasi atas sejumlah dokumen yang belum mencapai konsensus. Salah satu isu yang masih dibahas berkaitan dengan modus operandi Pasal 8(j) Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Pasal tersebut mengatur pengetahuan, inovasi, dan praktik masyarakat adat serta komunitas lokal yang relevan dengan konservasi. Ketentuan itu juga mencakup pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan yang masih menjadi perdebatan di antara delegasi.*






