BERTUAHPOS – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gagasan UIN Suska Riau, baru saja menggelar Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Dasar Jurnalistik (Diklatsar) 2026. Bukan sekadar duduk manis dengerin teori, para calon jurnalis kampus ini digembleng untuk punya insting tajam dan paham etika jurnalistik sejak dini.
Ketua Pelaksana Diklatsar 2026 M. Duta Ardandi Pratama menegaskan, acara ini menjadi kawah candradimuka bagi kader baru. Menurutnya, jurnalis kampus zaman sekarang wajib punya paket lengkap: jago nulis, paham akurasi, dan peka terhadap realitas sosial.
“Jurnalis kampus nggak cukup cuma bisa nulis. Mereka harus paham etika dan mampu membaca keadaan secara jujur,” ujar Duta.
Adapun rangkaian materi Diklatsar tahun ini terbilang padat dan “daging” semua. Mulai dari urusan “sakral” seperti Kode Etik Jurnalistik, desain visual, hingga teknik penulisan straight news dan feature.
Wilda Hasanah turut membekali peserta dengan teknik wawancara dan peliputan agar mereka nggak kagok saat menggali data di lapangan. Tak berhenti di situ, sesi ditutup oleh Melba Ferry Fadly yang membedah penulisan feature—menekankan pada kedalaman cerita dan kekuatan sudut pandang.
Muhammad Fajri, salah satu peserta, mengaku sangat terbantu dengan kurikulum Diklatsar kali ini. “Materinya nyambung banget, dari etika sampai teknis. Ini bikin kami sadar kalau jurnalistik itu kerjaan yang butuh tanggung jawab besar,” katanya.
Sebagai pembuktian, LPM Gagasan langsung menerjunkan para peserta untuk praktik lapangan di kawasan pusat kota Pekanbaru. Di sini, mereka ditantang melakukan wawancara dan liputan langsung untuk mengasah kepekaan terhadap isu-isu publik.
Pimpinan Umum LPM Gagasan, M. Rinaldi Wiraga, menyebut langkah ini penting untuk menjaga marwah pers mahasiswa terutama sebagai kontrol sosial dan edukasi di lingkungan kampus.
“Diklatsar ini langkah awal membangun tradisi jurnalistik yang punya integritas. Kami ingin lahirkan jurnalis yang kritis tapi tetap main di koridor etika,” ujar Rinaldi.***









