BERTUAHPOS.COM — Ketua Dewan Pendidikan Riau Prof. Junaidi khawatir akan hilangnya nomenklatur madrasah dalam revisi Undang-Undang Pendidikan Nasional akan menghapus eksistensi pendidikan Islam yang jauh lebih tua dari usia republik.
Pemisahan kementerian pendidikan dan agama juga dinilai menciptakan sekat dikotomis yang merugikan substansi pendidikan karakter.
Prof. Junaidi meyakini adanya upaya kelompok tertentu yang ingin menghilangkan identitas pendidikan Islam dari sistem nasional. Dampaknya tidak sekadar administratif melainkan berpotensi memutus mata rantai pembentukan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan.
“Jangan hilangkan kata madrasah dalam UU pendidikan nasional yang sedang digarap hari ini. Kalau itu hilang, ya hilang lah pendidikan Islam di negara ini,” ujarnya belum lama ini.
Pendidikan karakter yang selama ini menjadi kekuatan madrasah dan pesantren terancam tergerus sistem pendidikan sekuler. Junaidi menekankan bahwa akar pendidikan Islam di Indonesia telah terbukti membentuk generasi berakhlak jauh sebelum sistem persekolahan modern diperkenalkan.
Pemisahan kelembagaan antara Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama menciptakan jurang yang tidak produktif. Prof. Junaidi meminta agar pemisahan administratif tidak serta-merta memisahkan substansi pendidikan agama dari pendidikan umum.
“Jangan sampai pemisahan kementerian itu juga kita memisahkan substansi dari pendidikan sekuler dan agama. Pendidikan Islam harus menjadi solusi atas masalah yang dihadapi saat ini,” tegasnya.
Tantangan digitalisasi semakin memperparah krisis moral di kalangan pelajar. Junaidi mengingatkan bahwa sumber pendidikan generasi muda kini lebih banyak berasal dari media sosial dibandingkan ruang kelas formal.
Tanpa pondasi karakter yang kuat, paparan konten digital tanpa filter akan semakin menggerus moralitas pelajar. Prof. Junaidi menilai pendidikan berkarakter bukan sekadar materi ujian melainkan praktik keseharian yang harus diinternalisasi.
Kisah para nabi dan sahabat yang sarat nilai moral memerlukan penyesuaian konsep agar tetap relevan bagi generasi muda. Prof. Junaidi mengakui ada jarak psikologis yang membuat narasi klasik kehilangan daya tarik di era digital.
“Pendidikan berkarakter itu bukan untuk diujiankan tapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang akan menyelamatkan generasi kita dari krisis moral,” ujarnya.








