BERTUAHPOS — Sebuah obat imunoterapi baru bernama VIR-5500 menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam uji klinis fase satu pada pasien kanker prostat stadium lanjut.
Terapi ini dilaporkan mampu menurunkan kadar penanda kanker dan mengecilkan tumor pada sebagian pasien yang sebelumnya tidak lagi merespons pengobatan lain.
Kanker prostat merupakan salah satu kanker paling umum pada pria di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
Secara global, sekitar 1,5 juta pria didiagnosis kanker prostat setiap tahun, menjadikan penyakit ini tantangan besar dalam dunia onkologi.
Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 28 Februari 2026, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Profesor Johann de Bono dari Institute of Cancer Research dan Royal Marsden NHS Foundation Trust, menjelaskan bahwa VIR-5500 merupakan antibodi rekayasa yang dirancang untuk menghubungkan sel T pembunuh dengan sel tumor prostat.
Berbeda dari imunoterapi sebelumnya yang kurang efektif pada kanker prostat—yang kerap disebut sebagai “penyakit imun-dingin”—VIR-5500 dirancang agar aktif hanya di dalam lingkungan tumor.
Pendekatan ini bertujuan meminimalkan efek samping inflamasi berat sekaligus memperpanjang waktu kerja obat di dalam tubuh.
Dalam uji klinis yang melibatkan 58 pria dengan kanker prostat stadium lanjut, sebagian besar peserta (88 persen) hanya mengalami efek samping ringan.
Peneliti kemudian memantau kadar antigen spesifik prostat (PSA), biomarker yang umum digunakan untuk menilai aktivitas penyakit.
Pada 17 pasien yang menerima dosis tertinggi, 82 persen mengalami penurunan kadar PSA setidaknya 50 persen. Bahkan, lebih dari separuh pasien mencatat penurunan hingga 90 persen, dan hampir sepertiga mengalami penurunan hingga 99 persen.
Dari 11 pasien dengan tumor terukur pada dosis tertinggi, lima orang menunjukkan penyusutan tumor yang signifikan.
Dalam satu kasus, seorang pria berusia 63 tahun dengan metastasis ke hati menunjukkan respons luar biasa, dengan 14 lesi di hati dilaporkan hilang setelah enam siklus terapi.
Hasil ini dipresentasikan dalam simposium kanker genitourinari yang diselenggarakan oleh American Society of Clinical Oncology di San Francisco. Namun, data tersebut masih menunggu publikasi ilmiah dan peninjauan sejawat.
Profesor Charlotte Bevan dari Imperial College London, yang tidak terlibat dalam studi ini, menyebut perkembangan imunoterapi untuk kanker prostat sebagai langkah potensial membuka kelas obat baru.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya uji lanjutan dengan partisipan dari berbagai latar etnis untuk memastikan efektivitas dan keamanan yang merata.
Sementara itu, Simon Grieveson dari Prostate Cancer UK menyebut temuan ini sebagai perkembangan yang menggembirakan. Ia mengingatkan bahwa lebih dari 12.000 pria meninggal akibat kanker prostat setiap tahun di Inggris, sehingga kebutuhan terhadap terapi inovatif sangat mendesak.
Uji klinis lanjutan kini tengah direncanakan untuk mengevaluasi efektivitas VIR-5500 dalam skala yang lebih besar. Jika hasilnya konsisten, imunoterapi ini berpotensi menjadi terobosan baru dalam pengobatan kanker prostat stadium lanjut yang selama ini memiliki opsi terapi terbatas.***









