Oleh: Daru. TS
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَا سْمَعُوْا وَاَ طِيْعُوْا وَاَ نْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 16).
Islam itu realistis dan penuh rahmat, Allah tidak membebani di luar kemampuan manusia (fisik, harta, kondisi). Amalan dinilai dari usaha bukan hanya hasil, yang penting adalah kesungguhan dan niat. Pentingnya ketaatan total, tidak cukup hanya tahu tapi harus diamalkan.
Sifat kikir adalah penyakit hati yang berat, orang yang mampu mengalahkannya termasuk orang beruntung (al-muflihun). Bersedekah dan berinfak adalah jalan menuju keberuntungan dunia dan akhirat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian…” (HR. Shahih al-Bukhari no. 7288 dan Shahih Muslim no. 1337).
Penjabaran
Syukur, mengingatkan bahwa setiap hari yang kita jalani adalah anugerah dari Allah SWT. Kehidupan yang diberikan kembali setelah tidur menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan ketakwaan.
Allah Subhanahu SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun: 16). Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang realistis dan penuh rahmat. Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuan mereka, baik dari sisi fisik, harta, maupun kondisi hidup.
Konsep takwa dalam Islam tidak bersifat kaku atau memberatkan. Setiap individu memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga ukuran amal tidak selalu sama. Yang terpenting adalah kesungguhan dalam berusaha menjalankan perintah Allah sesuai kemampuan yang dimiliki.
Ayat tersebut juga menekankan pentingnya mendengar dan taat. Mendengar bukan sekadar menerima informasi, tetapi memahami dengan hati dan pikiran. Sementara taat berarti mengamalkan ilmu yang telah diketahui dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang berhenti pada tahap mengetahui, tetapi tidak melanjutkan pada pengamalan. Padahal, dalam Islam, ilmu tanpa amal tidak memiliki nilai yang sempurna. Ketaatan total menjadi bukti nyata dari keimanan seseorang.
Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk berinfak. Harta yang dimiliki sejatinya adalah titipan, dan sebagian di dalamnya terdapat hak orang lain. Dengan berinfak, seseorang tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membersihkan hartanya.
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah sifat kikir. Kekikiran membuat seseorang enggan berbagi, bahkan terhadap hal yang sebenarnya mampu ia keluarkan. Padahal, Allah menegaskan bahwa orang yang mampu menjaga dirinya dari sifat kikir termasuk golongan orang-orang yang beruntung (al-muflihun).
Infak dan sedekah menjadi jalan untuk mengalahkan sifat kikir tersebut. Semakin sering seseorang memberi, semakin lunak hatinya dan semakin kuat rasa empatinya terhadap sesama. Inilah salah satu bentuk kemenangan spiritual dalam Islam.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memperkuat prinsip bahwa Islam tidak memaksa di luar batas kemampuan manusia.
Oleh karena itu, setiap amal yang dilakukan akan dinilai berdasarkan niat dan usaha, bukan semata hasil akhir. Allah melihat kesungguhan hati dan konsistensi dalam beribadah, sekecil apa pun amalan tersebut.
Semoga setiap langkah kita hari ini selalu dalam limpahan rahmat, taufik, dan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Diberikan kesehatan lahir dan batin, rezeki yang halal dan berkah, serta kemudahan dalam urusan dunia dan akhirat, dan selalu berada dalam lindungan-Nya.***









