Allah SWT berfirman:
ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِ يْزُ الْغَفُوْرُ
“…yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 2).
Hidup dan mati adalah bagian dari ujian Allah, dan yang dinilai bukan banyaknya amal, tetapi kualitasnya (ikhlas dan benar). Kematian disebut lebih dahulu – mengingatkan manusia akan kepastian akhir hidup.
Memaknai ujian dengan sabar, baik ujian kesulitan maupun kenikmatan adalah bagian dari seleksi iman. Hidup adalah kesempatan untuk beramal sebelum mati.
Dunia hanyalah tempat sementara untuk membuktikan amal sebelum kembali kepada Allah. Seimbang antara takut dan harap, takut kepada kekuasaan Allah dan berharap pada ampunan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, hasan-shahih)
Penjabaran
Allah SWT menegaskan dalam QS Al-Mulk ayat 2 bahwa hidup dan mati bukan terjadi tanpa tujuan. Keduanya merupakan bagian dari ketetapan Ilahi untuk menguji manusia, siapa yang paling baik amal perbuatannya selama berada di dunia.
Firman Allah berbunyi, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa perjalanan manusia di dunia selalu berada dalam pengawasan dan penilaian Allah.
Menariknya, dalam ayat tersebut Allah menyebut kematian lebih dahulu sebelum kehidupan. Para ulama menjelaskan susunan itu mengandung pesan kuat bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda, sehingga manusia harus sadar bahwa hidup memiliki batas waktu.
Banyak orang mengejar panjang umur, harta, dan popularitas, tetapi lupa bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah jumlah capaian duniawi. Allah menilai kualitas amal, yaitu amal yang ikhlas karena-Nya dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Amal yang sedikit namun dilakukan dengan hati tulus bisa lebih berat timbangannya dibanding amal besar yang dipenuhi riya. Karena itu, amal terbaik dalam Islam bukan sekadar banyaknya ibadah, tetapi lurus niatnya dan benar caranya.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa ujian hidup tidak selalu berbentuk kesulitan. Rezeki melimpah, kesehatan, jabatan, dan kemudahan juga merupakan ujian yang akan ditanya bagaimana cara seseorang mensyukurinya.
Sebaliknya, kesempitan ekonomi, sakit, kehilangan, dan tekanan hidup adalah ujian yang mengukur kesabaran seorang hamba. Orang beriman memandang setiap keadaan sebagai kesempatan mendekat kepada Allah, bukan alasan untuk berputus asa.
Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” Hadis riwayat Tirmidzi ini mengajarkan bahwa mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar manusia sadar terhadap prioritas hidupnya.
Saat seseorang sering mengingat kematian, ia akan lebih berhati-hati dalam berbicara, bekerja, dan memperlakukan sesama. Ia juga akan lebih semangat bertobat, memperbaiki shalat, menjaga amanah, serta meninggalkan maksiat.
Karena itu, QS Al-Mulk ayat 2 mengajak manusia menyeimbangkan rasa takut dan harap kepada Allah. Takut terhadap azab dan kekuasaan-Nya, namun tetap berharap pada rahmat serta ampunan-Nya, sambil menjadikan hidup sebagai ladang amal sebelum datang kematian.***









