BERTUAHPOS.COM — Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam 68: Ayat 1 — “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan” — sebuah sumpah yang menegaskan betapa agung kedudukan ilmu dan warisan tulisan dalam pandangan Islam.
Sumpah Allah SWT selalu merujuk pada sesuatu yang memiliki nilai tinggi, dan pena dipilih sebagai simbol peradaban manusia serta penyebaran wahyu.
Pena bukan sekadar alat tulis, melainkan jembatan antara ilmu dan generasi yang akan datang. Melalui tulisan, agama tersebar, hukum ditegakkan, sejarah diabadikan, dan peradaban manusia terus berkembang dari zaman ke zaman.
Dari Ubadah bin Ash-Shamit, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Pena itu berkata: ‘Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat’.” (HR. Abu Dawud, HR. At-Tirmidzi — shahih). Hadis ini menegaskan bahwa tulisan bukan aktivitas biasa, melainkan perintah pertama yang Allah berikan kepada makhluk-Nya.
Tulisan menyimpan kekuatan yang melampaui batas waktu dan ruang. Apa yang tertulis hari ini bisa menjadi cahaya bagi orang lain berabad-abad sesudahnya.
Dengan tulisan, ilmu para nabi terjaga hingga hari ini tanpa terdistorsi. Al-Qur’an dibukukan, hadis dihimpun, dan catatan amal manusia pun diabadikan oleh para malaikat yang tidak pernah lalai.
Setiap kata yang ditulis mengandung tanggung jawab besar di hadapan Allah. Tulisan yang mengajak kepada tauhid dan nasihat yang baik akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, meski penulisnya telah wafat.
Sebaliknya, tulisan yang menyebarkan fitnah, kebohongan, atau kemungkaran menjadi sumber dosa yang tidak berhenti mengalir. Islam mengajarkan bahwa pena bisa menjadi jalan keselamatan sekaligus pintu kebinasaan, bergantung pada niat dan isi tulisan yang dihadirkan.
Para ulama terdahulu memahami benar nilai warisan tulisan ini, sehingga mereka mendedikasikan hidup untuk menyusun kitab demi kitab. Karya-karya mereka kini menjadi warisan intelektual Islam yang masih dipelajari, dikaji, dan diamalkan oleh jutaan muslim di seluruh dunia.
Di era digital ini, tulisan tersebar lebih cepat dari sebelumnya dan menjangkau lebih banyak pembaca tanpa batas wilayah. Ini adalah peluang besar sekaligus amanah berat bagi setiap muslim yang menggenggam pena — atau menyentuh papan ketik.
Maka, jadikan setiap tulisan sebagai ladang amal dan sarana menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Karena di sanalah letak kemuliaan pena — bukan pada tinta yang mengalir, melainkan pada kebenaran dan kebaikan yang ia abadikan.***
ilmu dan warisan tulisan









