Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut kaum Tsamud dan kaum ‘Ad secara langsung dalam Al-Qur’an sebagai umat yang mendustakan Hari Kiamat.
Penyebutan ini bukan tanpa alasan, melainkan menjadi pelajaran penting dalam kajian Islam tentang akibat mengingkari kebenaran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ بِۢالْقَارِعَةِ
“Kaum Samud, dan ‘Ad telah mendustakan hari Kiamat.” (QS. Al-Haqqah 69: Ayat 4).
Ayat ini menggunakan istilah Al-Qari’ah sebagai salah satu nama Hari Kiamat. Kata tersebut bermakna sesuatu yang mengetuk dengan keras, mengguncang, dan menggetarkan hati karena kedahsyatannya.
Pendustaan kaum ‘Ad dan Tsamud bukan hanya tertuju pada para rasul yang diutus kepada mereka. Mereka juga menolak keyakinan akan kebangkitan, hisab, dan pembalasan di akhirat kelak.
Sikap ingkar itu membawa konsekuensi yang tak terelakkan bagi kedua umat tersebut. Allah menurunkan azab yang membinasakan mereka di dunia, bahkan sebelum azab akhirat datang menjemput.
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai cermin bagi generasi sesudahnya. Umat yang menutup mata terhadap peringatan Allah niscaya akan menanggung akibat serupa, cepat atau lambat.
Rasulullah SAW memberikan teladan nyata ketika melewati bekas negeri kaum Tsamud di Al-Hijr. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bersabda:
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis maka jangan memasukinya, agar kalian tidak tertimpa seperti yang menimpa mereka.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 433 dan Sahih Muslim no. 2980)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus memandang tempat-tempat yang pernah ditimpa azab dengan rasa takut dan penuh introspeksi. Bukan sekadar wisata sejarah, melainkan momen untuk memperkuat kesadaran akan kebesaran Allah.
Kisah dua kaum ini mengandung pelajaran mendalam tentang hubungan antara iman kepada akhirat dan perilaku manusia di dunia. Siapa yang sungguh-sungguh meyakini Hari Kiamat, ia akan berhati-hati dalam setiap langkah dan keputusannya.
Maka, merenungi nasib kaum Tsamud dan ‘Ad adalah bagian dari memperkuat iman kepada hari pembalasan. Keyakinan itu bukan sekadar doktrin, melainkan kekuatan yang membentuk akhlak dan mendorong ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.









