Ayat Al-Qur’an tentang ibu banyak ditemukan dalam berbagai surah sebagai pengingat betapa besar jasa seorang ibu bagi anaknya. Dalam kajian Islam, kedudukan ibu memang ditempatkan pada posisi yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Salah satu ayat yang menggambarkan hal tersebut terdapat dalam Surah Luqman ayat 14. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
“Dan Kami memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman 31: Ayat 14)
Ayat ini menggambarkan betapa berat perjuangan seorang ibu sejak masa mengandung hingga menyusui buah hatinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara khusus menekankan pentingnya rasa syukur kepada-Nya sekaligus penghormatan kepada kedua orang tua, terutama ibu, atas segala jasa yang telah diberikan.
Kajian serupa juga terdapat dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)
Ayat tersebut menggarisbawahi betapa berat kesulitan fisik yang harus dilalui seorang ibu selama masa kehamilan hingga proses menyusui. Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua sebagai bentuk balas budi atas pengorbanan yang tidak ternilai harganya.
Dari kedua ayat tersebut, terlihat jelas bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara soal ibadah ritual semata. Perhatian terhadap hubungan anak dan ibu pun mendapat porsi khusus sebagai bagian penting dari akhlak seorang muslim.
Pengorbanan ibu yang digambarkan dalam ayat-ayat ini mencakup penderitaan fisik sekaligus beban emosional yang dijalani tanpa keluhan. Rasa lemah, letih, hingga susah payah yang disebutkan berulang kali menunjukkan betapa besar cinta seorang ibu kepada anaknya.
Sikap berbakti kepada ibu semestinya tidak berhenti pada ucapan semata, melainkan terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Merawat, mendoakan, serta memperlakukannya dengan lemah lembut menjadi wujud syukur yang paling sederhana namun bermakna dalam.
Kesadaran akan besarnya jasa ibu ini semestinya mendorong setiap muslim untuk lebih menghargai keberadaan orang tuanya selagi masih ada kesempatan. Penyesalan sering kali datang ketika waktu untuk berbakti sudah tidak lagi tersisa.









