BERTUAHPOS – Pemerintah Iran mulai menerapkan sistem seleksi ketat terhadap kapal-kapal internasional yang ingin melintasi Selat Hormuz di tengah blokade total akibat eskalasi perang di Timur Tengah.
Jalur perdagangan energi paling vital di dunia ini kini berada di bawah kendali penuh otoritas Iran, yang hanya memberikan izin transit bagi kapal-kapal dari negara sekutu atau pihak yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Laporan terbaru dari perusahaan intelijen maritim Windward mengungkapkan adanya perubahan pola navigasi yang signifikan pada periode 15-16 Maret 2026. Setidaknya lima kapal terpantau keluar dari Selat Hormuz melalui rute yang bersinggungan langsung dengan wilayah kedaulatan Iran, sebuah langkah yang jarang terjadi dalam kondisi normal.
“Rute baru ini menggambarkan bagaimana blokade penyiaran Iran telah berkembang untuk memungkinkan sekutu dan pendukungnya untuk transit,” demikian yang dilaporkan Windward seperti dikutip dari AFP.
Analisis tersebut mempertegas bahwa Teheran kini menjalankan protokol “transit berbasis izin” untuk memastikan setiap komoditas yang keluar dari Teluk Persia sejalan dengan kepentingan politik dan keamanan mereka. Pengawasan ini mencakup pemeriksaan mendalam terhadap identitas pemilik kapal hingga jenis kargo yang dibawa guna menghindari infiltrasi aset-aset Barat.
Senada dengan temuan tersebut, analis komoditas dari perbankan JPMorgan, Natasha Kaneva, menyebutkan adanya aktivitas luar biasa di sekitar perairan Larak-Qeshm, dekat pesisir Iran. Ia mencatat adanya kapal pengangkut minyak curah dan tanker berbendera Pakistan yang berhasil menembus blokade melalui prosedur khusus yang ditetapkan oleh otoritas setempat.
“Ini bukan rute standar untuk kapal dan dapat mencerminkan proses yang dirancang untuk mengkonfirmasi kepemilikan kapal dan kargo, memungkinkan jalur bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan AS atau sekutunya,” kata Kaneva dalam sebuah catatan yang dikirim ke AFP.
Penutupan Selat Hormuz secara resmi telah berlangsung sejak serangan balasan AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Mengingat seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada selat ini, sejumlah negara seperti India dan Turki dilaporkan langsung membuka jalur diplomasi dengan Iran. Hasilnya, beberapa kapal tanker LPG berbendera India dan kapal milik Turki telah diizinkan melintas setelah melalui proses dialog antarpejabat negara.
Langkah Iran ini menciptakan dikotomi keamanan di laut, di mana negara-negara Asia, terutama Tiongkok, tetap mendapatkan prioritas pasokan. Di sisi lain, Amerika Serikat terus mendorong sekutunya untuk membentuk koalisi perlindungan militer guna menembus blokade yang kian mencekik jalur distribusi energi global tersebut.***









