BERTUAHPOS.COM — Pencairan aset Iran senilai US$6 miliar yang selama ini dibekukan di Qatar menjadi langkah awal paling strategis dalam kesepakatan pascakonflik antara Teheran dan Washington. Dana tersebut merupakan bagian dari paket pemulihan ekonomi senilai US$12 miliar yang akan dilepas secara bertahap.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memastikan mekanisme pencairan telah rampung dirundingkan. “Mekanisme pencairan telah disepakati melalui perundingan yang berlangsung di Qatar dan Bürgenstock, Swiss,” ujarnya dikutip dari Defencesecurityasia, Selasa, 30 Juni 2026
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut tahap pertama pencairan akan dijalankan berdasarkan Pasal 11 Nota Kesepahaman Amerika Serikat-Iran. Nota tersebut menjadi bagian integral dari implementasi gencatan senjata yang disepakati kedua pihak.
Sebagian besar dana yang dibekukan berasal dari pendapatan ekspor minyak Iran yang tertahan. Sanksi terhadap sektor energi Iran diperketat setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir pada 2018.
Sekitar US$6 miliar di antaranya sebelumnya telah dipindahkan dari bank-bank Korea Selatan ke Qatar pada 2023. Dana itu kembali dibekukan menyusul pecahnya konflik antara Hamas dan Israel.
Kesepakatan terbaru menandai perubahan pendekatan Washington dan Teheran. “Pelonggaran sanksi kini dikaitkan langsung dengan stabilitas pelayaran di Selat Hormuz,” ujar Ghalibaf.
Jalur strategis tersebut sebelumnya terganggu akibat penempatan ranjau laut dan blokade oleh Iran. Berdasarkan kesepakatan, Iran diwajibkan menyelesaikan pembersihan ranjau dalam 30 hari.
Amerika Serikat juga akan mengakhiri blokade maritimnya secara bersamaan. “Mekanisme ini dirancang agar kelancaran pelayaran komersial menjadi syarat berlanjutnya pelonggaran sanksi ekonomi,” tambah Ghalibaf.
Pakistan dan Qatar memainkan peran penting sebagai mediator sepanjang proses negosiasi. Kedua negara memperkuat posisinya sebagai penghubung diplomatik utama antara Washington dan Teheran.
Perbedaan pandangan masih muncul terkait penggunaan dana tersebut. Iran menegaskan aset yang dicairkan dapat dimanfaatkan secara bebas, sementara negara-negara Barat tetap menginginkan pembatasan untuk kebutuhan kemanusiaan seperti pangan dan obat-obatan.









