BERTUAHPOS.COM — Presiden Amerikan Serikat Donald Trump ancam akan bom Oman. Ancaman itu dilontarkan Trump jika Oman menghalangi upaya untuk mengakhiri perang AS dengan Iran. Sementara itu, negosiasi selama 60 hari berakhir tanpa kesepakatan, terus memicu kekhawatiran mitra AS.
Sikap Trump itu menandakan bahwa pendekatan diplomasinya bermasalah. Tidak bisa ditebak. Bahkan berlebihan sehingga membuat mitra AS kecewa.
“Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump kepada Fox News seperti dilansir Bertuahpos dari The Guardian, Selasa, 18 Agustus 2026. Ancaman seperti ini bukan kali pertama keluar dari mulut Trump ke Oman.
Sementara itu, konflik di Timur Tengah masih berlanjut. Kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menargetkan kapal-kapal militer Arab Saudi dalam serangan rudal dan drone di Laut Merah.
Pejabat Saudi tidak mengonfirmasi serangan tersebut, yang menurut Houthi telah mengenai sebuah kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal.
Serangan itu dikatakan terjadi di dekat Selat Bab-al Mandeb, jalur pelayaran global penting yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden.
Di Israel, menantu Trump, Jared Kushner, bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu lebih dari empat jam setelah Netanyahu menolak rencana perdamaian Gaza yang didukung AS.
“Kami tidak akan menarik pasukan sebelum Hamas sepenuhnya melucuti senjata,” kata Netanyahu.
Trump telah mempertaruhkan warisan politik masa jabatan presiden keduanya sebagai “pembawa perdamaian utama”, tetapi upayanya menarik AS dari konflik di Timur Tengah mengalami kebuntuan.
Ancaman terhadap Oman disampaikan hampir enam bulan setelah perang dilancarkan dan ketika jendela diplomatik dengan Teheran berakhir tanpa kesepakatan akhir.
Dalam wawancara yang sama, Trump meminta Iran “mengibarkan bendera putih tanda menyerah”. “Saya tidak punya jadwal waktu, saya tidak terburu-buru,” ujar Trump.
Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Iran di Istana Versailles pada 17 Juni di sela-sela KTT G7. Nota itu menghentikan permusuhan dan menetapkan tenggat maksimal 60 hari yang hanya dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
Kesepakatan itu bertujuan mencapai penyelesaian komprehensif yang mencakup pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan perselisihan lainnya. Meski Trump berulang kali mengklaim perang akan segera berakhir, belum ada terobosan yang terwujud hingga tenggat berakhir.
Para mitra AS melihat ancaman terhadap Oman sebagai cerminan gaya diplomasi yang tidak stabil. Padahal Oman bukan pihak dalam perang tersebut.
“Kushner dilaporkan meminta Netanyahu untuk tidak menciptakan hambatan bagi kesepakatan damai,” kata para pejabat AS. “Namun upaya diplomasi Trump masih belum menghasilkan terobosan,” ujarnya.









