BERTUAHPOS — Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku pakan impor, seorang pemuda asal Mungkid, Kabupaten Magelang, memilih jalan berbeda.
Aufa, berusia 25 tahun, seorang petani azolla sekaligus peternak ikan air tawar, membuktikan bahwa pakan alternatif berbasis sumber daya lokal mampu menekan biaya produksi dan membuka peluang usaha yang berkelanjutan.
Ia mengawali usaha ini dari budidaya ikan nila merah. Seiring waktu, biaya pakan menjadi persoalan utama.
Dalam struktur biaya usaha perikanan dan peternakan, pakan menyerap sekitar 70% dari total biaya produksi, sementara sisanya 30% berasal dari biaya ternak ikan.
Kondisi semakin berat karena sekitar 70% bahan baku pakan di Indonesia masih bergantung pada impor.
“Kalau terus bergantung pada pakan pabrikan, petani tidak akan pernah mandiri,” ujar Aufa.
Azolla sebagai Solusi Pakan Alternatif
Berangkat dari keresahan itu, Aufa mulai membudidayakan azolla sebagai pakan alternatif.
Azolla merupakan tanaman paku-pakuan air yang memiliki pertumbuhan cepat dan kandungan nutrisi cukup baik.
Dari pengalamannya, penggunaan azolla mampu menekan biaya pakan hingga sekitar 30% dari total kebutuhan pakan.
Meski demikian, Aufa menegaskan bahwa azolla belum bisa dijadikan pakan tunggal.
Kandungan nutrisi seperti karbohidrat dan lemak masih perlu dikombinasikan dengan pakan lain agar kebutuhan gizi ternak dan ikan tetap terpenuhi.
“Azolla sangat efektif sebagai pakan tambahan, bukan pakan utama,” jelasnya.
Selain untuk pakan ikan dan ternak, azolla juga memiliki manfaat di sektor pertanian sebagai pupuk organik. Inilah yang membuat Aufa melihat azolla sebagai komoditas multifungsi dengan potensi besar.
Pada tahap awal, Aufa membudidayakan azolla di pekarangan rumah menggunakan plastik UV dengan luas sekitar 10 x 5 meter.
“Meski lancar, tapi hasil panen masih terbatas,” ujarnya.
Dari situ, Aufa menyadari bahwa azolla merupakan pakan alternatif dengan biaya produksi rendah tetapi memiliki manfaat besar.
Ia kemudian memutuskan untuk memperluas budidaya azolla di lahan sawah seluas sekitar 1.000 meter persegi.
Singkat cerita, Aufa semakin mendalami teknik budidaya azolla. Ia kini memahami pengaturan budidaya secara menyeluruh, mulai dari penanganan penyakit, jadwal pemupukan, hingga teknik panen yang aman dan berkelanjutan.
“Sekarang tinggal pengembangan ke hilir, bagaimana azolla bisa diolah agar lebih tahan lama,” katanya.
Ke depan, ia berencana mengembangkan azolla menjadi produk turunan seperti pakan komplit atau tepung azolla agar memiliki daya simpan lebih panjang dan nilai tambah lebih tinggi.
Dari Konsumsi Sendiri Menjadi Peluang Usaha
Awalnya, azolla hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ternak dan ikan miliknya sendiri.
Namun, setelah Aufa membagikan pengalaman budidaya azolla melalui konten YouTube, respons masyarakat mulai berdatangan. Banyak orang bertanya dan tertarik mencoba budidaya azolla.
Dari situlah Aufa mulai menjual azolla secara komersial. Tingginya minat pembeli tidak lepas dari keunggulan azolla yang cukup dibeli satu kali, kemudian bisa dipanen setiap hari tanpa perlu membeli bibit ulang.
Selama dirawat dengan baik, azolla dapat terus tumbuh dan berproduksi secara berkelanjutan. “Azolla itu tanpa pembibitan ulang, bisa terus hidup dan dipanen,” ujarnya.
Saat ini, Aufa memasarkan azolla melalui berbagai platform digital, terutama Shopee. Produk dijual dalam kondisi segar tetapi sudah ditiriskan.
Setelah dipanen, azolla dikeringkan menggunakan mesin pengering, kemudian dikemas dengan plastik dan kardus.
Dengan metode tersebut, azolla tetap aman selama pengiriman 3–5 hari dan masih segar saat diterima pembeli. Bahkan, azolla yang dikirim masih dapat digunakan kembali sebagai bibit.
Permintaan azolla di Shopee terbilang tinggi. Aufa mengaku mampu menjual sekitar 5–10 kilogram azolla per hari secara rutin.
Selain itu, penjualan juga datang dari Facebook Marketplace, website bisnis, hingga pembeli yang datang langsung ke lokasi budidaya.
Prospek Pasar yang Masih Terbuka Lebar
Dari sisi pasar, azolla masih menyimpan peluang besar. Pengetahuan masyarakat tentang azolla masih terbatas, sehingga permintaan bibit relatif tinggi.
Selama pasokan bibit belum melimpah, pasar azolla dinilai masih sangat potensial.
Kalaupun ke depan permintaan bibit menurun, Aufa menilai azolla tetap memiliki nilai guna. Azolla dapat langsung dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ayam, bebek, mentok, maupun ikan, sehingga tidak ada hasil panen yang terbuang.
Selain itu, kerja sama dengan peternak unggas dan peternak ikan menjadi opsi penyerapan produksi. Meski harganya lebih rendah, suplai pakan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Dari sisi biaya, budidaya azolla tergolong sangat efisien.
Berdasarkan pengalaman Aufa, biaya produksi dari lahan 1.000 meter persegi—meliputi bibit dan pupuk—sekitar Rp300 ribu per bulan.
Dengan luasan tersebut, total panen azolla bisa mencapai sekitar 1,2 ton atau 1.200 kilogram per bulan. Dari penjualan melalui online shop dan jalur lainnya, Aufa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp3–4 juta per bulan.
Selain memberikan pendapatan langsung, azolla juga menyubsidi kebutuhan pakan ternak dan ikan yang ia pelihara di rumah, sehingga menekan biaya produksi secara keseluruhan.
Dengan HPP yang rendah, permintaan pasar yang terus tumbuh, serta manfaat ganda sebagai pakan dan pupuk, usaha budidaya azolla yang dijalankan Aufa menunjukkan bahwa kemandirian pakan bukan sekadar wacana, melainkan peluang nyata bagi petani dan peternak di Indonesia.***
– Sumber: Youtube Capcapung –









