BERTUAHPOS – Bukan lewat nikel atau batu bara, “emas hijau” berupa kayu gaharu asal hutan Sumatra dan Kalimantan, menjadi buruan utama kolektor dan industri kelas atas di Arab Saudi hingga Korea Selatan.
Nilai ekonominya sangat fantastis. Di pasar internasional, harga gaharu kualitas premium bisa menembus angka US20.000 hingga US100.000 per kilogram, atau setara dengan ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Pohon Aquilaria, sumber utama gaharu, tidak menghasilkan aroma harum secara instan. Kayu ini baru akan mengeluarkan resin berharga ketika pohonnya “terluka” atau terinfeksi jamur secara alami. Reaksi pertahanan diri inilah yang menciptakan getah gelap dengan aroma kompleks yang sangat mahal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren positif pada nilai ekspor komoditas ini. Meski secara volume sempat fluktuatif, nilai ekspor gaharu Indonesia pada tahun 2023 mencapai sekitar US16,6 juta, naik tipis dari tahun sebelumnya yang berada di angka US16,4 juta.
Arab Saudi masih mendominasi sebagai penyerap terbesar gaharu Indonesia. Nilai ekspor ke negara tersebut melonjak tajam menjadi US10,9 juta pada 2023, dari yang sebelumnya hanya US8,4 juta. Hal ini membuktikan bahwa kualitas gaharu RI tak tertandingi di Timur Tengah.
Menurut CNBC Indonesia Research, gaharu asal Sumatra dan Kalimantan punya karakter aroma yang sangat dalam dan tahan lama. Profil aroma seperti ini sangat dicari oleh peracik parfum mewah di dunia.
Selain Timur Tengah, Korea Selatan kini mulai melirik potensi kayu aromatik ini. Tren gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami di Negeri Ginseng mendorong permintaan gaharu sebagai bahan baku dupa premium dan produk relaksasi.
Namun, di balik kegemilangan harga tersebut, tantangan besar membayangi para petani dan eksportir. Proses pembentukan resin yang memakan waktu bertahun-tahun menjadikan gaharu sebagai investasi jangka panjang yang memerlukan kesabaran ekstra.
Pemerintah terus mendorong upaya budidaya terencana agar pasokan tetap terjaga tanpa merusak ekosistem hutan alami. Praktik penebangan ilegal masih menjadi isu sensitif yang dapat mengancam status keberlanjutan gaharu di pasar dunia.
Faktor iklim dan teknik budidaya yang tepat sangat menentukan kualitas resin. Kita tidak bisa hanya mengandalkan alam, harus ada intervensi teknologi agar hasilnya maksimal.
Keunggulan gaharu Indonesia dibanding negara kompetitor di Asia Tenggara terletak pada variasi jenisnya. Indonesia memiliki keragaman spesies Aquilaria yang memberikan profil aroma berbeda-beda, sehingga memberikan banyak pilihan bagi pasar global.
Saat ini, kementerian terkait juga tengah fokus pada program hilirisasi. Harapannya, Indonesia tidak hanya mengekspor kayu mentah atau serpihan kayu (chip), tetapi juga produk olahan seperti minyak atsiri gaharu yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi.
Pasar Uni Emirat Arab, Singapura, dan Kuwait juga tercatat sebagai negara tujuan ekspor yang konsisten. Kehadiran pembeli dari Korea Selatan menambah daftar panjang negara maju yang mengakui kualitas “emas hijau” dari tanah air.***









