BERTUAHPOS – Investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia selama empat hari berturut-turut pada periode 9–12 Februari 2026. Derasnya arus keluar dana global ini membuat akumulasi foreign outflow sepanjang tahun berjalan hampir menyentuh Rp15 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis, 12 Februari 2026, investor asing kembali membukukan net sell sebesar Rp1,49 triliun. Aksi jual ini melanjutkan tren sebelumnya, yakni Rp721,77 miliar pada 9 Februari, Rp708,01 miliar pada 10 Februari, dan Rp526,42 miliar pada 11 Februari 2026.
Seiring tekanan jual tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,31% atau 25,61 poin ke level 8.265,35. IHSG sempat dibuka di posisi 8.317,24 dan menyentuh level tertinggi harian di 8.334,02 sebelum akhirnya melemah di akhir perdagangan.
BEI mencatat, sepanjang tahun berjalan 2026, total net sell investor asing telah mencapai Rp14,46 triliun. Arus keluar ini menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG sejak awal tahun.
Dilansir dari Bisnis.com, Jumat, 13 Februari 2026, Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan arah lanjutan reli IHSG tidak hanya ditentukan faktor teknikal indeks global.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan yield obligasi pemerintah, serta kejelasan kebijakan fiskal dan reformasi pasar domestik menjadi variabel kunci.
“Jika premi risiko mulai menurun dan arus dana asing kembali stabil, peluang penguatan lanjutan IHSG tetap terbuka,” ujarnya.
Pelaku pasar saat ini juga mencermati arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, harga komoditas utama, serta dinamika kebijakan domestik.
Kombinasi faktor global dan kredibilitas reformasi struktural di dalam negeri dinilai akan menentukan arah pasar dalam jangka pendek hingga menengah.
Andrey turut menyoroti dampak pengumuman review indeks MSCI di tengah fase interim freeze.
Sejumlah saham yang terdampak penyesuaian indeks, seperti PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), dan PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), mengalami tekanan jangka pendek yang dipicu aliran dana indeks.
Ia menegaskan, tekanan harga belakangan ini lebih banyak berasal dari penyesuaian portofolio dana pasif global, bukan karena perubahan fundamental kinerja emiten. Prospek jangka menengah saham-saham tersebut tetap bergantung pada kinerja operasional dan daya beli domestik.
RHB Sekuritas merekomendasikan beli untuk ACES dengan target harga Rp510 dan beli untuk INDF dengan target Rp9.500. Sementara untuk CLEO, belum ada rekomendasi.
Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) masih menjadi proxy utama Indonesia dalam indeks global.
Bobot besar dan likuiditas tinggi membuat saham-saham ini relatif lebih tahan terhadap volatilitas serta berpotensi menjadi penerima arus masuk ketika sentimen global membaik.
Secara historis, dampak rebalancing MSCI terhadap IHSG cenderung terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan bobot signifikan dalam MSCI Indonesia. Pergerakan saham tersebut kerap memengaruhi arah indeks dalam jangka pendek.***









