BERTUAHPOS.COM — Bank Indonesia (BI) tidak lagi mengandalkan penaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebagai instrumen utama dalam meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Berbeda dengan beberapa keputusan sebelumnya yang mendorong suku bunga naik hingga 100 basis poin sejak awal tahun, BI kini memilih penguatan instrumen di pasar uang dan memangkas biaya lindung nilai bagi investor asing.
Deputi Gubernur Senior BI, Aida Budiman, menegaskan bahwa respons suku bunga acuan selalu dihitung berdasarkan kesenjangan inflasi dan kesenjangan output. Dalam paparan terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode September 2026 pada Rabu kemarin, ia menilai kondisi ekonomi domestik saat ini tidak sedang overheating, sehingga kenaikan BI Rate dinilai kurang tepat.
“Kami tidak memilih untuk menaikkan BI Rate, karena BI Rate tadi punya dampak juga terhadap harga-harga di domestik,” jelas Aida.
Aida menjelaskan, inflasi inti Indonesia per Agustus 2026 masih sangat terkendali pada level 2,92%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dinilai tetap solid pada kisaran 5,29% untuk kuartal kedua.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah sejak awal September 2026 dinilai murni akibat faktor eksternal, mulai dari kenaikan yield US Treasury ke 5,2% dan kenaikan indeks dolar AS. Ia menilai masalah utama pasar saat ini adalah kekurangan pasokan likuiditas valuta asing, dan membantah jika pelemahan rupiah dikaitkan dengan lesunya ekonomi domestik.
Sementara itu, Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan suku bunga acuan saat ini sudah berada pada level yang memadai. Bank sentral kini lebih memilih insentif berupa pemotongan premi lindung nilai, setelah menahan BI Rate tetap di level 5,75%.
Melalui skema ini, BI memberi diskon premi swap hingga 25% untuk tenor penempatan satu tahun. Selain itu, biaya transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) juga didiskon hingga 30% agar aliran modal asing terus masuk sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
Menyusul keputusan terbaru BI ini, nilai tukar rupiah menguat 0,37% ke Rp17.818 terhadap dolar Amerika Serikat, menjadikannya mata uang paling unggul di kawasan emerging market Asia Pasifik. Pasar saham juga bereaksi positif, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,56%.









