BERTUAHPOS – Mata uang rupiah kembali terkapar di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, 30 Maret 2026.
Mata uang Garuda kini resmi menembus ambang psikologis baru di level Rp17.000 per dolar AS, dengan proyeksi pelemahan yang diperkirakan masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026 besok.
Berdasarkan data pasar sore ini, rupiah ditutup melemah 22 poin.
Sebelumnya, mata uang domestik sempat merosot hingga 25 poin ke posisi Rp17.002, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.979.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan besar pada esok hari.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.000 – Rp 17.040,” ungkap Ibrahim Assuaibi.
Anjloknya nilai tukar rupiah tidak lepas dari memanasnya tensi di Timur Tengah.
Pasar kini dalam posisi siaga tinggi menyusul serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Israel pada akhir pekan lalu.
Kekhawatiran muncul bahwa konflik ini akan meluas ke jalur perdagangan vital di Laut Merah.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang di Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” kata Ibrahim.
Sentimen negatif kian diperparah oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump.
Pekan lalu, Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April mendatang.
Langkah agresif ini langsung memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, kondisi internal ekonomi Amerika Serikat ikut menyudutkan posisi rupiah.
Ekspektasi inflasi AS untuk 12 bulan ke depan melonjak tajam menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada Februari.
Sementara itu, ekspektasi inflasi jangka panjang (lima tahun) tertahan di level 3,2%.
Kenaikan harga energi dan inflasi yang membandel memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuan.
“Pasar yang saat ini memperkirakan langkah selanjutnya dari Federal Reserve (Fed) adalah kenaikan suku bunga, mengingat skenario harga energi yang tinggi saat ini,” pungkas Ibrahim.
Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter ketat di AS ini diprediksi akan terus menjadi beban berat bagi nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.***
— Investor.id —









