BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/6) ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.966 per dolar AS. Tekanan itu muncul dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan investor global cenderung berhati-hati akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin memanas setelah laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, serta operasi militer Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz.
“Washington memang mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, namun implementasinya masih bergantung pada sikap Hizbullah,” ujar Ibrahim.
Selain tekanan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payrolls yang dijadwalkan rilis pada hari ini, Jumat, 5 Juni 2026. Data tersebut dinilai krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan pergerakan dolar di pasar global.
Dari sisi domestik, Ibrahim mencatat kenaikan harga minyak mentah dunia turut memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan sektor eksternal Indonesia. Harga energi yang tinggi berpotensi menambah beban subsidi, mendorong defisit fiskal mendekati batas tiga persen, sekaligus menekan neraca perdagangan lewat lonjakan impor minyak.
Ibrahim juga menyoroti inflasi Mei 2026 yang naik ke angka 3,08 persen serta menyusutnya surplus neraca perdagangan akibat impor tumbuh lebih cepat dibanding ekspor. Di sisi lain, pasar masih mencermati status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI dan prospek negatif yang diberikan Moody’s terhadap PT Danantara Investment Management.
Menghadapi tekanan itu, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan intensitas lebih tinggi. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bank sentral akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen moneter.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” kata Destry.









