BERTUAHPOS.COM — Nilai tukar rupiah yang ambruk hingga ke level Rp17.800-an per dolar AS dinilai tidak bisa dipulihkan hanya dengan mengandalkan instrumen moneter semata. Diperlukan langkah yang jauh lebih komprehensif agar mata uang Garuda kembali menguat secara berkelanjutan.
Pandangan ini disampaikan oleh Ekonom Yusuf, Sabtu, 30 Mei 2026. “Ketika instrumen moneter yang relatif agresif dilakukan BI, belum mampu membalikkan arah pergerakan kurs, pasar sebenarnya sedang menyampaikan pesan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan penerapan suku bunga semata,” ujarnya, dilansir dari Inilah.com.
Yusuf mencatat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tetap terjadi meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Imbal hasil atau yield dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI pun sudah dikerek menjadi 6,45 persen untuk tenor 12 bulan dan 6,75 persen untuk tenor tertentu, namun dampaknya terhadap penguatan nilai tukar rupiah masih sangat terbatas.
Kondisi ini memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini bukan semata dipicu oleh rendahnya daya tarik imbal hasil aset domestik. Artinya, peningkatan yield pun hanya berdampak terbatas terhadap pemulihan rupiah.
Yusuf menjelaskan bahwa pelemahan rupiah lebih banyak dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik secara bersamaan. Dari sisi global, pasar tengah beralih ke dolar AS dan aset aman di tengah memanasnya ketegangan geopolitik serta tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
Dari sisi domestik, pasar melihat adanya pelemahan kredibilitas fiskal dan rendahnya keyakinan terhadap konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah. Arus modal keluar pun lebih banyak ditentukan oleh selera risiko global ketimbang selisih suku bunga antarnegara.
Karena itu, Yusuf menilai kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin justru menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pengaruhnya sendiri terhadap nilai tukar rupiah. “Suku bunga tetap penting untuk menahan tekanan pada margin dan menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi fungsinya lebih sebagai penahan sementara daripada penyembuh utama,” katanya.
Di sisi lain, Yusuf mengakui bahwa intervensi valuta asing tetap diperlukan untuk meredam gejolak yang terlalu ekstrem. Namun efektivitasnya terbatas karena terus-menerus menguras cadangan devisa jika dilakukan tanpa disertai langkah struktural yang lebih menyeluruh.
“Saat ini pasar tidak hanya menunggu langkah tambahan dari BI, melainkan ingin melihat bahwa beban stabilisasi dibagi secara lebih luas. Artinya, pasar ingin ada penguatan pengelolaan pasokan devisa domestik dan yang lebih penting, pemulihan kredibilitas fiskal lewat konsistensi dan teknokratis,” kata Yusuf.
Pemerintah, kata Yusuf, perlu mengembalikan prediktabilitas kebijakan, memperkuat kualitas teknokrasi, dan memperbaiki komunikasi ekonomi yang selama ini dinilai kurang meyakinkan oleh pasar. “Ini penting karena pelepasan aset rupiah oleh investor asing saat ini lebih banyak dipengaruhi persepsi terhadap arah kebijakan dibanding persoalan suku bunga semata,” tegasnya.
Untuk jangka panjang, Yusuf menegaskan bahwa pekerjaan rumah terbesar tetap berada pada struktur neraca pembayaran Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah sangat rentan terhadap gejolak global kapan pun tekanan eksternal kembali datang.









