BERTUAHPOS – Bank Indonesia (BI) mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasuries akibat meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan fiskal di Negeri Paman Sam.
Data BI mencatat, kepemilikan sekuritas pada akhir Juli 2025 turun USD2,8 miliar menjadi USD87,0 miliar. Secara kumulatif, kepemilikan sekuritas BI telah menyusut USD8,7 miliar dalam empat bulan terakhir.
Sebaliknya, kas dan deposito BI naik USD2,2 miliar menjadi USD47,2 miliar, dengan total kenaikan USD7,5 miliar sejak Mei 2025.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan langkah ini menunjukkan BI memperkecil eksposur pada aset AS dan meningkatkan alokasi ke aset mata uang asing yang lebih likuid.
“Banyak bank sentral global juga melakukan langkah serupa untuk diversifikasi portofolio dan menjaga likuiditas,” ujarnya, Senin, 11 Agustus 2025, dikutip dari Ipotnews.
Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun 15,4 basis poin (bps) menjadi 6,42%, sementara tenor 2 tahun melemah 22,1 bps ke 5,65%.
Rupiah stabil di Rp16.291 per dolar AS, sedangkan indeks dolar (DXY) melemah 0,9% menjadi 98,27.
Sementara itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis 3,2 bps menjadi 4,25%, meski masih mendekati level terendah tiga bulan terakhir karena ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada September mencapai 88,9%, dengan peluang penurunan tambahan pada Oktober sebesar 57% dan Desember 46,7%.
Rully menambahkan, pelemahan data tenaga kerja AS dan sikap dovish bank sentral utama dunia mendorong aliran modal masuk ke pasar negara berkembang. Kondisi ini mengangkat harga obligasi Indonesia sekaligus menopang nilai Rupiah.***









