BERTUAHPOS – Pemprov Riau semakin besar membuka peluang investasi di berbagai sektor. Langkah ini dianggap efektif untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi daerah.
Sementara BPS mencatat konsumsi pemerintah turun dan sektor pertambangan semakin tertekan. Oleh sebab itu, Pemprov Perlu mengeluarkan kebijakan yang benar-benar ramah investasi.
Provinsi Riau mencatat realisasi investasi sebesar Rp12,67 triliun pada Triwulan II-2025. Capaian ini menempatkan Riau di peringkat ke-11 nasional dan posisi kedua di Pulau Sumatera, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau.
Apa yang dijual Pemprov Riau?
Gubernur Riau, Abdul Wahid, menegaskan posisi geografis Riau berbatasan langsung dengan Selat Malaka menjadi indikator strategis, terutama untuk perdagangan internasional. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk memperluas investasi di berbagai sektor.
Selain soal letak geografis, Wahid mengklaim, Riau cukup aman, tertib dan memiliki kepastian hukum yang kuat.
Oleh sebab itu, semua pihak hendaknya melihat Riau bukan hanya sebatas provinsi yang kaya minyak dan sawit, “sebagai masa depan bisnis dan investasi di Sumatera,” ujarnya di Pekanbaru belum lama ini.

Dari sisi komoditi, Riau memiliki sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang menjanjikan, mulai dari migas, pertambangan, perkebunan kelapa sawit, karet, hingga kehutanan.
Namun, kata dia, masa depan ekonomi Riau bukan sekadar menjual bahan mentah, melainkan mendorong hilirisasi agar tercipta nilai tambah.
Pemprov Riau, kata dia, akan terus mendorong kerja sama konkret untuk memaksimalkan peluang investasi di Bumi Lancang Kuning.
Idealnya, ketersediaan bahan baku yang ada harus keluar dalam bentuk produk jadi. “Harapan kita tentu ada keuntungan bersama,” jelasnya. “Ini akan menjadi jalan menuju ekonomi yang berdaya saing.”
Data Realisasi Investasi
Sejauh ini, realisasi investasi di Riau diklaim telah memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi Riau pada periode triwulan II-2025 tercatat 4,59% year on year (yoy).
“Ini menandakan kepercayaan investor terhadap potensi Riau, terutama di sektor pertanian, industri pengolahan, dan konstruksi,” kata Kepala BPS Riau, Asep Riyadi.
BPS mencatat pertumbuhan investasi tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang naik 2,47% secara tahunan. Kenaikan ini didorong meningkatnya pengadaan semen, impor pupuk, dan indeks konstruksi yang membaik.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,38% berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ketersediaan pupuk. Program ini mendorong peningkatan produksi padi, peternakan, dan perikanan sekaligus memperluas peluang ekspor.
Industri pengolahan tumbuh 2,36% karena kenaikan produksi kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya. Asep menilai potensi hilirisasi sektor ini sangat besar, mulai dari pengembangan oleokimia, biodiesel, hingga produk makanan dan minuman berbasis bahan baku lokal.
Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 4,55%, didorong proyek strategis nasional seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan kawasan industri. “Infrastruktur yang semakin lengkap membuat investor semakin melirik Riau sebagai basis produksi dan distribusi,” jelas Asep.
Tantangan & Apa yang Harus Dilakukan
Meski investasi tumbuh, BPS mencatat sejumlah tantangan. Pengeluaran konsumsi pemerintah turun 7,41%, sementara sektor pertambangan tertekan dengan penurunan produksi minyak mentah dan batubara sebesar 0,10%.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi ekonomi sangat penting agar Riau tidak bergantung pada komoditas tertentu. Percepatan perizinan, pemberian insentif usaha, dan kelanjutan proyek strategis menjadi kunci untuk menjaga tren investasi positif.***









