BERTUAHPOS.COM — Kurs rupiah melemah ke Rp18.124 per dolar AS di tengah ketegangan Timur Tengah dan sinyal hawkish The Fed, Selasa, 14 Juli 2026. Pasar fokus pada data inflasi AS dan pidato Ketua The Fed yang akan menentukan arah kebijakan moneter.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 15 poin atau 0,08% ke level tersebut. Pelemahan ini melanjutkan tekanan setelah pada Senin, 13 Juli 2026, rupiah ditutup anjlok 44 poin ke Rp18.109.
Indeks dolar AS bertahan di posisi 101,27 didukung ketegangan AS-Iran yang mendorong kenaikan harga minyak. Ketidakpastian geopolitik itu membuat investor beralih ke aset safe haven dan menekan mata uang emerging.
Euro dan poundsterling relatif stabil di $1,1383 dan $1,3347 per dolar AS. Sementara yen Jepang terpuruk di 162,40, level terendah dalam 40 tahun, sehingga memicu spekulasi intervensi Bank of Japan.
Risiko inflasi menjadi sorotan utama dengan rilis data indeks harga konsumen AS pada Selasa ini. Data indeks harga produsen akan menyusul sehari kemudian, memberikan gambaran utuh tekanan harga di Amerika Serikat.
“Suku bunga perlu dinaikkan dalam waktu dekat jika data inflasi tetap jauh di atas target 2%,” ujar Gubernur The Fed Christopher Waller. “Kami tidak akan ragu bertindak agar ekspektasi inflasi tidak melonjak.”
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pernyataan pertama di hadapan Kongres AS. Pidato itu akan diawasi ketat pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan moneter selanjutnya.
“Kami melihat risiko kenaikan harga energi dari Timur Tengah sebagai faktor yang harus diwaspadai. Jika inflasi inti tetap tinggi, kenaikan suku bunga menjadi keniscayaan,” katanya.









