BERTUAHPOS.COM — Dominasi produk sawit menunjukkan industri hilir berbasis komoditas itu masih menjadi motor utama perdagangan luar negeri untuk Riau. Kontribusi ekspor CPO Riau yang mencapai 56,82 persen menegaskan ketergantungan tinggi provinsi ini pada komoditas perkebunan itu.
Hal ini dibuktikan dengan nilai ekspor CPO Riau mencapai US$4,69 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026, naik 13,54 persen dari periode yang sama tahun lalu. Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati ini menyumbang 56,82 persen terhadap total ekspor nonmigas provinsi tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengungkapkan bahwa kenaikan ekspor sawit menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nonmigas Riau. Lima bulan pertama tahun ini mencatat ekspor nonmigas tumbuh 9,37 persen menjadi US$8,26 miliar.
“Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai US$559,66 juta atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau,” kata Asep.
Total ekspor Riau selama Januari-Mei 2026 mencapai US$8,60 miliar atau meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen, meski ekspor migas justru merosot 42,83 persen.
Selain produk sawit, komoditas yang mencatat pertumbuhan tinggi adalah bahan kimia organik yang melonjak 74,68 persen menjadi US$452,71 juta. Berbagai makanan olahan naik 20,20 persen, ampas dan sisa industri makanan meningkat 25,04 persen, serta produk kimia tumbuh 5,94 persen.
“Di sisi lain, bubur kayu atau pulp menjadi komoditas yang mengalami penurunan terbesar. Nilai ekspornya turun US$109,38 juta atau 13,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada komoditas buah-buahan yang merosot 48,05 persen,” jelasnya.
“Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut,” ujarnya.
Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar produk ekspor Riau dengan nilai US$1,55 miliar atau sekitar 18,72 persen dari total ekspor nonmigas. India dan Malaysia menyusul dengan nilai masing-masing US$694,01 juta dan US$626,08 juta.
Ketiga negara itu secara bersama-sama menyumbang sekitar 34,71 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau. BPS mencatat peningkatan ekspor ke Tiongkok yang naik 22,22 persen, Amerika Serikat meningkat 16,59 persen, Vietnam tumbuh 17,89 persen, Rusia naik 9,86 persen, serta Italia melonjak 26,46 persen.
Sementara itu, ekspor ke sejumlah negara tujuan lain mengalami kontraksi. Bangladesh turun 16,93 persen, Belanda turun 5,16 persen, Malaysia turun 1,59 persen, dan Filipina terkoreksi 1,64 persen.
Dari sisi sektor usaha, industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Riau dengan kontribusi 94,55 persen terhadap total ekspor. Nilai ekspor sektor ini meningkat 9,78 persen, sedangkan ekspor sektor pertanian justru turun 11,08 persen.
“Pertumbuhan ekspor nonmigas Riau yang solid menunjukkan daya saing produk daerah tetap kompetitif di pasar global. Kami optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama,” pungkas Asep.









