BERTUAHPOS.COM — Film The Odyssey arahan Christopher Nolan memadukan tontonan blockbuster memukau dengan introspeksi mendalam tentang kesombongan manusia. Adaptasi setia ini menandai babak baru dalam filmografi sang sutradara yang terus menantang batas antara seni dan hiburan.
Nolan meninggalkan permainan waktu dan struktur kompleks demi narasi yang lebih linier sekaligus merenung. Hasilnya adalah sebuah epik mitologi yang membumi, mencekam, dan menghantui.
Kisah dimulai delapan tahun setelah Perang Troya berakhir. Odysseus (Matt Damon) belum juga pulang, sementara putranya Telemachus (Tom Holland) mencari kepastian di Sparta tanpa menyadari bahaya yang mengintai di Ithaca.
Antinous (Robert Pattinson) memimpin rencana pembunuhan Telemachus demi memperebutkan Penelope (Anne Hathaway). Sementara itu, Odysseus mulai mendapatkan kembali ingatannya di pulau Calypso berkat bisikan dewi Athena (Zendaya).
Momen-momen paling spektakuler hadir lewat pertarungan melawan Cyclops, penyihir Circe, monster laut, dan para raksasa. Setiap pertempuran menampilkan kebrutalan perang yang kontras dengan momen keheningan yang mencekam.
Meski setia pada spirit epik Homer, Nolan dengan berani menyimpang dari teks aslinya. Pendekatan agnostiknya meniadakan campur tangan dewa secara langsung, menyisakan bisikan dan penglihatan semata.
Menurut Hoai-Tran Bui dalam ulasannya di Inverse, sinematografi Hoyte van Hoytema menyelimuti film dengan palet warna suram yang memudar. Tidak ada kejayaan keemasan mitologi; yang tersisa hanyalah lanskap apokaliptik yang memperkuat kengerian perjalanan pulang.
“Untuk pertama kalinya Nolan merambah surealisme dan horor tubuh. Transformasi korban Circe meminjam sentuhan Cronenberg, sementara dunia bawah terasa seperti penghormatan pada Ingmar Bergman,” tulisnya.
Menurutnya, eksekusi linier ini justru memberi ruang bagi ingatan untuk menerobos kapan saja. Kilas balik hadir seolah ingatan menyela percakapan, menciptakan fluiditas liris yang jarang terlihat dalam karya-karya Nolan sebelumnya.
Damon menampilkan Odysseus yang dihantui, bukan sekadar licik. Hathaway memancarkan gairah membara sebagai Penelope, sementara Pattinson menjadikan Antinous tokoh antagonis yang licin sekaligus menjijikkan.
“Film ini menjadi ajang reuni Nolan dengan aksi blockbuster sejak Dunkirk. Diperkuat skor intens Ludwig Göransson, ia menciptakan adegan pertempuran yang mengguncang tulang dan klimaks yang liar,” katanya.
Hampir seluruh pemain pendukung bersinar: Himesh Patel, John Leguizamo, hingga penampilan singkat Jon Bernthal dan Lupita Nyong’o. Namun Samantha Morton sebagai Circe menonjol dengan kedalaman tragis hanya dalam 10 menit waktu layar.
Satu-satunya catatan lemah ada pada karakter Telemachus yang diperankan Holland. Penampilannya lebih berfungsi sebagai fondasi kokoh bagi pemain lain yang tampil mencolok.
Durasi panjang memang terasa mengendur di bagian tengah. Namun momen tersebut tidak mengurangi capaian film sebagai prestasi sinematik yang luar biasa.
“The Odyssey bukan sekadar epik monster dan dewa. Ia merupakan kesaksian menyedihkan tentang kesombongan manusia dan konsekuensi perang yang membekas lama setelah layar meredup,” tujarnya.









