BERTUAHPOS.COM — Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives sebagian besar ditutup lebih tinggi pada Rabu, 10 Juni 2026, didorong oleh ekspektasi ekspor yang kuat serta produksi yang turun setelah data Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) rilis. Pedagang menyebut kenaikan ini sebagai respons langsung terhadap dinamika pasokan-permintaan global yang semakin ketat.
David Ng, pedagang saham independen dari Iceberg X Sdn Bhd, menilai penurunan produksi minyak sawit yang dilaporkan MPOB akan menjadi penopang utama harga CPO dalam jangka pendek. “Kami melihat dukungan di RM4.450 per ton dan resistensi di RM4.600 per ton,” katanya, dilansir dari Bernama, Kamis, 11 Juni 2026.
Data dari Amspec Agri Malaysia menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia naik 4,87 persen atau 17.518 ton menjadi 376.971 ton selama 1-10 Juni, dibandingkan periode sama Mei lalu yang hanya 359.453 ton. Sementara itu, Intertek Testing Services mencatat peningkatan ekspor sebesar 3,50 persen atau 14.445 ton menjadi 427.255 ton dibanding 412.810 ton pada Mei.
Di pasar berjangka, kontrak Juni 2026 turun RM4 menjadi RM4.450 per ton saat penutupan perdagangan. Sebaliknya, kontrak Juli 2026 naik RM14 ke RM4.498 per ton, sementara Agustus 2026 melonjak RM10 menjadi RM4.538 per ton.
Kontrak September, Oktober, dan November 2026 juga mengalami kenaikan masing-masing RM12, RM14, dan RM10, menutup di level RM4.578, RM4.615, dan RM4.649 per ton. Volume perdagangan melonjak drastis menjadi 96.730 lot dari 51.506 lot sehari sebelumnya, meski open interest turun sedikit menjadi 285.884 kontrak dari 287.862.
Sementara itu, harga fisik CPO untuk wilayah Selatan Malaysia bulan Juni tetap stabil di angka RM4.500 per ton. Stabilitas ini mencerminkan keseimbangan antara permintaan domestik dan tekanan ekspor yang terus menguat.









