BERTUAHPOS.COM — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi menambah beban berat bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menekankan bahwa dampak kali ini berbeda dengan April lalu karena kini menyentuh langsung biaya mobilitas kendaraan operasional ringan.
Shinta menjelaskan bahwa jika sebelumnya kenaikan diesel lebih memengaruhi logistik besar, sekarang giliran sektor jasa dan distribusi skala kecil yang merasakan getarannya.
“Dalam jangka pendek, dampaknya akan terasa pada kenaikan biaya operasional harian, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki intensitas mobilitas tinggi,” kata Shinta, dilansir dari kepada Bisnis.com, Kamis, 11 Juni 2026.
Kenaikan ini secara spesifik menekan usaha ritel, kurir last-mile delivery, hingga tenaga pemasaran yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar bensin.
Pelaku usaha dengan margin tipis diprediksi akan menghadapi tantangan signifikan karena sulitnya menyerap lonjakan biaya tersebut tanpa menaikkan harga jual.
“Bagi usaha besar, dampaknya mungkin masih dapat dikelola melalui efisiensi operasional dan penyesuaian manajemen biaya,” ujar Shinta.
Namun, bagi UMKM dan pelaku usaha dengan margin yang tipis, kenaikan biaya BBM seperti ini tetap dapat menjadi tekanan tambahan yang cukup signifikan.
Apindo mendesak pemerintah untuk segera memperkuat pengendalian inflasi agar biaya energi tidak serta merta memicu kenaikan harga barang secara luas.
Efisiensi logistik juga harus terus didorong demi menjaga daya beli masyarakat yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.
“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang mengikuti dinamika pasar, tetapi dalam kondisi tekanan biaya yang masih tinggi, pemerintah perlu memastikan agar transmisi kenaikan tersebut tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan tidak mengganggu pemulihan daya beli serta aktivitas dunia usaha,” tandasnya.
Dunia usaha saat ini sedang terhimpit akumulasi masalah mulai dari pelemahan daya beli, nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian ekonomi global.
Karena itu, meskipun BBM yang naik kali ini adalah BBM nonsubsidi, kenaikan ini tetap berpotensi menjadi amplifier terhadap tekanan biaya yang sudah dirasakan pelaku usaha.
Shinta menilai risiko second-round effect tetap ada jika biaya mobilitas yang membengkak akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui tarif jasa atau harga barang.
“Dalam situasi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, tambahan biaya seperti ini perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak semakin menekan konsumsi rumah tangga,” ucapnya.
Selain pelaku bisnis, Apindo juga menyoroti nasib kelas menengah yang terpaksa mengubah pola konsumsi mereka akibat harga Pertamax yang melonjak.
“Ketika sebagian pendapatan masyarakat terserap lebih besar untuk mobilitas dan energi, ruang konsumsi untuk barang dan jasa lain dapat ikut berkurang,” terangnya mengantisipasi penurunan permintaan domestik.









