BERTUAHPOS.COM – Pasar berjangka CPO Malaysia bergerak lesu pada Kamis (3/9/2026). Seluruh kontrak berjangka kompak ditutup melemah, dengan kontrak Oktober 2026 mencatat penurunan terbesar.
Pelemahan ini tidak lepas dari sentimen eksternal dan domestik. Kontrak berjangka minyak kedelai yang melemah menjadi pemicu awal tekanan terhadap harga CPO.
Anilkumar Bagani dari Sunvin Group menyebut keputusan Indonesia terkait biodiesel menjadi salah satu faktor kunci. Indonesia memilih mempertahankan mandat B50 pada 2026, bukan meningkatkan ke B60 seperti yang sebelumnya diperkirakan pasar.
“Pengumuman Indonesia untuk mempertahankan mandat biodiesel B50 tahun depan alih-alih beralih ke B60, telah membatasi kenaikan harga berjangka minyak sawit,” kata Bagani.
Selain itu, pasar juga dibayangi ekspektasi peningkatan stok minyak sawit Malaysia. Bagani memproyeksikan stok akhir Agustus naik empat persen menjadi 2,735 juta ton.
Meski produksi diperkirakan turun dua persen, penurunan ekspor lebih dari lima persen membuat stok menumpuk. Kondisi ini menambah tekanan terhadap harga.
“Kami memperkirakan stok minyak sawit Malaysia pada akhir Agustus akan melonjak empat persen dari bulan Juli menjadi 2,735 juta ton, dengan produksi diperkirakan menurun dua persen dan ekspor lebih dari lima persen,” ujar Bagani.
Rincian pergerakan harga menunjukkan kontrak September 2026 turun RM13 ke RM4.635 per ton. Kontrak Oktober 2026 melemah tajam RM63 menjadi RM4.768 per ton.
Kontrak November 2026 berkurang RM54 menjadi RM4.904 per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2026 turun RM47 ke posisi RM5.018 per ton.
Untuk kontrak awal 2027, Januari turun RM41 menjadi RM5.107 per ton. Februari 2027 melemah RM40 menjadi RM5.169 per ton.
Volume perdagangan melonjak menjadi 137.648 lot, naik dari 94.460 lot pada Rabu. Lonjakan volume ini menunjukkan meningkatnya aktivitas jual di tengah tekanan harga.
Di sisi lain, open interest menyusut menjadi 338.419 kontrak dari 339.030 kontrak sehari sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan pelaku pasar mulai mengurangi eksposur.
Harga fisik CPO September Selatan tercatat tidak bergerak di level RM4.670 per ton. Stabilitas harga fisik ini berbanding terbalik dengan pelemahan kontrak berjangka.
Pasar kini menanti data resmi dari Asosiasi Minyak Sawit Malaysia dan UOB Kay Hian. Estimasi dari lembaga-lembaga tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai produksi Agustus.
Data pasokan, permintaan, dan stok dari Dewan Minyak Sawit Malaysia juga menjadi perhatian utama. Hasil rilis data tersebut berpotensi menggerakkan pasar dalam beberapa hari ke depan.









