BERTUAHPOS.COM — Batang dan pelepah sawit itu bisa menghasilkan bioetanol, bahkan dalam kapasitas besar.
Kata Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Roni Maryana, batang sawit berpotensi menghasilkan 227.000 ton bioetanol per tahun. BRIN sudah menghitungan potensi ini.
Angka itu didapat dari asumsi peremajaan tanaman sawit sekitar 0,5% dari total luas perkebunan 16 juta hektare tiap tahunnya.
Jadi, cairan hasil pemerasan batang sawit yang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol.
“Peluang ini menjadi bagian dari pengembangan energi alternatif berbasis biomassa,” ujarnya.
Potensi batang sawit melengkapi pemanfaatan tandan kosong. Dari 50 juta ton tandan kosong, dapat menghasilkan sekitar 1,6 juta ton etanol per tahun.
Selain itu, ada konsep biorefinery yang diperkenalkan Roni. biorefinery adalah sistem pengolahan biomassa dengan memanfaatkan berbagai teknologi.
Proses ini dapat menghasilkan energi dan kaya produk nilai tambah; bioetanol, selulosa, bahkan bahan kimia lainnya.
Kalau biomassa dimanfaatkan, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tentu dapat ditekan. Indonesia punya bahan baku yang melimpah untuk mewujudkan semua ini.
Di 2025 saja, Indonesia masih impor sekitar 60% kebutuhan bensin. Sedangkan pengembangan biodiesel baru 50% atau B50. Baru bersiap untuk B60.
Saat ini, BRIN punya fasilitas contoh untuk bioetanol generasi kedua. Luasnya sekitar 70 meter per segi.
Proses produksinya meliputi praperlakuan, sakarifikasi, fermentasi, distilasi, dan dehidrasi hingga menghasilkan bioetanol.
Pengolahan tandan kosong kelapa sawit dimulai dengan pengeringan dan penggilingan sebelum memasuki tahap berikutnya.
Untuk penerapan di sektor transportasi, BRIN telah menjalin kerja sama riset dengan Astra Agro Lestari dan Toyota Astra Motor.
Hasil pengembangan teknologi tersebut diperkenalkan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show 2023 melalui pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan.*









