BERTUAHPOS.COM — Stok minyak sawit atau CPO Malaysia diperkirakan melonjak hingga sekitar 3 juta ton atau lebih pada September. Pedagang senior minyak sawit Interband Group of Companies, Jim Teh, menilai kondisi ini dapat menekan harga kontrak CPO berjangka pekan depan.
Dilansir dari Bernama, Minggu, 4 September 2026, Jim Teh menjelaskan bahwa potensi lonjakan stok ini perlu diwaspadai pelaku pasar.
Selain faktor stok, pelemahan harga minyak mentah turut menjadi beban tambahan bagi harga CPO. Harga minyak mentah Brent tercatat jatuh ke bawah level US$100 per barel pada perdagangan Jumat.
Dengan kombinasi kedua faktor tersebut, Jim Teh memproyeksikan kontrak CPO berjangka akan bergerak pada kisaran RM4.300 hingga RM4.400 per ton pekan depan.
Dia menambahkan, level harga saat ini berpotensi memicu aksi ambil untung dari para pelaku pasar.
Meski demikian, permintaan fisik dari sejumlah negara tujuan ekspor diperkirakan tetap berlanjut.
Senada dengan itu, pedagang independen Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyoroti pentingnya data penawaran dan permintaan terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang akan dirilis pada 12 Oktober sebagai acuan arah pasar selanjutnya.
David Ng memperkirakan harga akan bergerak di antara level support RM4.400 dan resistance RM4.600.
Data perbandingan Jumat ke Jumat menunjukkan kontrak Oktober 2026 melemah RM121 menjadi RM4.354 per ton, kontrak November 2026 turun RM137 menjadi RM4.441 per ton, dan kontrak Desember 2026 melemah RM137 menjadi RM4.535 per ton.
Sementara itu, kontrak Januari 2027 tergelincir RM141 menjadi RM4.627 per ton, kontrak Februari 2027 turun RM152 menjadi RM4.709 per ton, dan kontrak Maret 2027 melemah RM155 menjadi RM4.786 per ton.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume mingguan menyusut menjadi 609.973 lot dari 665.059 lot pada pekan sebelumnya, sedangkan open interest turun menjadi 334.658 kontrak dari 342.948 kontrak.
Adapun harga fisik CPO untuk pengiriman Oktober South tercatat turun RM130 menjadi RM4.400 per ton.








