BERTUAHPOS — Bank Indonesia (BI) membuka peluang untuk kembali menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Meski telah memangkas suku bunga sebanyak enam kali sejak September 2024, bank sentral menilai ruang pelonggaran moneter masih terbuka seiring inflasi yang tetap terkendali.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan stabilitas inflasi memberi ruang bagi kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
“Setelah enam kali penurunan sejak September 2024, kami masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga dengan inflasi yang rendah dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Jakarta, pada 28 Januari 2026.
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20–21 Januari 2026, BI-Rate saat ini berada di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility tercatat 3,75%, dan Lending Facility sebesar 5,5%.
Perry menjelaskan, kebijakan moneter BI mengusung mandat ganda, yakni menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Stabilitas ditempuh melalui pengendalian inflasi dan nilai tukar rupiah, sedangkan kebijakan pro-pertumbuhan dilakukan lewat suku bunga rendah, ekspansi likuiditas, serta penguatan cadangan devisa.
“Kami akan menjaga stabilitas dan terus mendorong agar rupiah menguat,” kata Perry.
Optimisme BI tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7%. BI mematok titik tengah pertumbuhan di level 5,3% dan menargetkan peningkatan menjadi 5,5% pada 2027, sejalan dengan target pemerintah sebesar 5,4%.
Selain suku bunga, BI juga mendorong perbankan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil. Pertumbuhan kredit ditargetkan berada di kisaran 8–12% pada 2026, dan meningkat menjadi 9–13% pada 2027.
Untuk mendukung target tersebut, BI bersama pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap stabil dalam rentang 2,5±1%.
Menutup pernyataannya, Perry mengajak pelaku usaha agar tidak bersikap pasif menghadapi dinamika ekonomi. “Mari kita optimistis. Berhenti wait and see. Jika terus menunggu, kita akan tertinggal,” tegasnya.***









