BERTUAHPOS — Pendidikan berkarakter dinilai menjadi kunci bagi perguruan tinggi dalam mencetak cendekiawan, sehingga kampus tak hanya melahirkan orang cerdas, tetapi juga generasi masa depan yang berakhlak.
Hal ini disampaikan Dr H Achmad, MSi dalam Ngobrol Pintar (Ngopi) yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau di Grand Suka Hotel Pekanbaru, Senin, 22 September 2025.
“Peran dosen tidak hanya sekedar sebagai pengajar, melainkan juga sebagai pendidik yang mampu membentuk karakter mahasiswanya,” katanya dalam acara yang mengusung tema peningkatan mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri itu.
Menurutnya, pengajar hanya mentransfer ilmu pengetahuan, sementara pendidik memiliki tanggung jawab lebih besar, yaitu mengubah karakter sehingga melahirkan cendekiawan. “Cendekiawan bukan hanya pintar, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Achmad menilai, persoalan utama pendidikan saat ini adalah lemahnya adab dan karakter peserta didik. Faktor teknologi menjadi salah satu penyebab perubahan etika anak-anak yang semakin jauh dibandingkan generasi sebelumnya.
Oleh sebab itu, kata dia, sebelum ilmu diberikan, adab harus didudukkan terlebih dahulu. “Adab lebih tinggi daripada ilmu,” tegasnya.
Dia mengingatkan bahwa pendidikan karakter perlu diperkuat. Dulu, salah satu mata pelajaran yang dianggap berhasil membentuk karakter para siswa adalah Budi Pekerti. Namun kini, nilai-nilai adab itu mulai terpinggirkan sehingga guru menghadapi tantangan lebih besar dalam membina generasi.
Oleh sebab itu, dia juga menyarankan agar orang tua hendaknya membangun kembali kebiasaan sederhana seperti makan malam bersama anak-anak. Momen tersebut dapat menjadi ruang diskusi, sarana perhatian, sekaligus pendidikan karakter yang dibentuk dari di lingkungan keluarga.
“Dari kebersamaan itu akan tumbuh kasih sayang. Itu sudah menjadi bagian dari mendidik siswa di rumah. Karakter terbentuk sejak awal, dan dalam satu tahun pertama anak akan mudah digembleng karakternya,” jelasnya.
Sementara para dosen dan guru, memiliki posisi mulia karena tidak hanya mencetak orang cerdas, melainkan juga cendekiawan yang menjadi panutan.
“Tenaga pendidik lah yang menciptakan cendekiawan. Pahalanya akan terus mengalir,” katanya.
Acara Ngopi ini mendapat sambutan hangat dari peserta yang terdiri dari dosen, dan akademisi. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi untuk memperkuat peran tenaga pendidik dalam meningkatkan mutu PTKIN di Indonesia.
UIN Suska Riau berkomitmen terus melaksanakan kegiatan serupa agar kualitas pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan adab mahasiswa.***









