BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Hampir di setiap sudut jalan di Kota Pekanbaru, selalu ditemukan jualan gorengan.
Berbagai aneka gorengan tersaji dengan bermacam rasa, tak jarang pula diracik dengan berbagai kreativitas dan inovasi. Apakah jualan gorengan di Pekanbaru menjanjikan cuan?
Buktinya, usaha ini tak pernah mati, bahkan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu. Meski untungnya kecil, tapi perputarannya cepat. Hal ini menjadi andalan dari bisnis gorengan.
Tingginya aktivitas masyarakat di wilayah perkotaan, membuat konsumen memilih gorengan sebagai cemilan pengganjal perut. Kadang juga dijadikan lauk. Lagi pula, gorengan adalah cemilan merakyat, dan masuk untuk semua kalangan.
“Bakwan wajib ada, untuk pendamping lontong sayur, ha ha ha,” kata Hendry, seorang pegawai swasta yang ditemui Bertuahpos.com di bofet sarapan pagi di Jalan Durian, Pekanbaru, Kamis, 19 Oktober 2023.
selain bakwan, sala lauak juga termasuk gorengan paling populer di Pekanbaru. Selain tersaji di meja, gerobak yang khusus menjual sala lauak juga sering ditemui di pinggir jalan.
Sebagai konsumen, Samsul yang juga teman Hendry, mengaku sering mengandalkan gorengan untuk pengganjal perut menjelang diisi dengan makanan berat. Misalnya di saat pagi, atau sore hari menjelang pulang kerja.
“Di kantor selalu ada gorengan untuk ganjal. Kadang habis makan siang jam 12.00, kan masih panjang waktu menjelang pulang kerja. Habis ashar kadang kita beli gorengan, makan sama-sama di kantor,” jelasnya.
Sebagai cemilan primadona, beberapa pengusaha gorengan di Pekanbaru juga mengakui, jualan gorengan lebih mudah dilakukan.
“Sederhananya, dorong gerobak di pinggir jalan, ada saja yang beli, lebih kurang begitu lah,” ujar Sunarsih, seorang penjual gorengan di Jalan Durian, Pekanbaru.
Berbagai jenis gorengan tersaji di balik rak kaca di gerobaknya, mulai dari goreng pisang, bakwan, tempe, tahu, piscok, ubi, dan lain-lain. “Kalau sehari itu, ratusan bisa habis. Karena yang beli nggak mungkin satu kan, paling tidak lima,” tuturnya.
Di tempatnya, bakwan, tahu dan tempe, jadi pilihan yang paling digemari pelanggan. Dari pengalamannya, Sunarsih bercerita, bahwa tempat mangkal termasuk yang paling menentukan ramai tidaknya pembeli.
“Saya pernah buka di gang, agak sepi. Akhirnya pindah ke jalan yang ramai, Alhamdulillah penjualan lumayan. Rata-rata kita jual Rp1.000 per buah,” sambungnya.
Dalam sehari, omzet yang didapat bisa mencapai Rp300 ribu. Kalau lagi ramai, dia bisa mengumpulkan hingga Rp500 ribu. Artinya, ada ratusan gorengan laku terjual tiap harinya.
Bahkan, Imay, penjual gorengan di Jalan Kereta Api, Pekanbaru mampu menjual hingga 800 gorengan dalam sehari. Menurutnya, jenis gorengan yang paling digemari adalah tahu crispy.
“Rata-rata omzet Rp800-Rp900 ribu lah. Tergantung ramai tidaknya pembeli. Ya, rata-rata perbulan Rp24 juta hingga Rp25 jutaan,” ungkapnya.***









