BERTUAHPOS — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026, dipicu oleh kinerja ekspor yang menurun serta penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar AS.
Menguatnya mata uang Ringgit Malaysia membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri sehingga permintaan dari negara pengimpor utama seperti China dan India cenderung melemah.
Pedagang Internal Iceberg X Sdn Bhd David Ng mengatakan, penguatan ringgit meredam minat beli dan memperlambat laju pengiriman ekspor. “Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek permintaan jangka pendek,” katanya, dilansir dari Bernam, Selasa, 24 Februari 2026.
Selain itu, data ekspor yang lemah memperkuat sentimen negatif pasar, terutama karena dua pasar terbesar CPO dunia, yakni China dan India, menunjukkan penurunan permintaan dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Kepala riset komoditas Sunvin Group di Mumbai Anilkumar Bagani, performa ekspor Malaysia sepanjang 1–20 Februari 2026 turut memengaruhi pergerakan harga CPO di pasar global.
Menurut data Intertek Testing Services (ITS), ekspor CPO Malaysia pada periode tersebut mencapai 863.358 ton, turun 8,92 persen dibanding periode yang sama sebelumnya. Sementara AmSpec memperkirakan ekspor sebesar 779.834 ton atau turun 12,62 persen.
Sentimen pasar juga tertekan oleh penurunan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), yang memicu aksi likuidasi posisi beli oleh investor komoditas.
Pada penutupan perdagangan, kontrak CPO Maret 2026 turun RM12 menjadi RM4.051 per ton. Kontrak April turun RM6 ke RM4.081 per ton, sedangkan Mei melemah RM9 menjadi RM4.083 per ton.
Kontrak Juni 2026 turun RM14 ke RM4.082 per ton, sementara kontrak Juli dan Agustus masing-masing merosot RM26 menjadi RM4.074 dan RM4.073 per ton. Volume perdagangan juga menurun menjadi 62.122 lot dari 81.717 lot pada sesi sebelumnya, dengan open interest turun ke 221.427 kontrak.
Harga fisik CPO untuk pengiriman Maret wilayah selatan Malaysia tercatat stabil di RM4.100 per ton.***









