BERTUAHPOS – Harga kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan pada 17 Maret 2026. Penurunan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif dari pasar minyak kedelai global di Chicago Board of Trade (CBOT) serta posisi nilai tukar Ringgit Malaysia yang semakin perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi pasar nabati dunia yang saling terhubung menyebabkan aksi jual signifikan di pasar kedelai Amerika Serikat langsung merambat ke perdagangan sawit di Asia. Para investor cenderung melepas posisi kontrak sawit menyusul koreksi harga komoditas kompetitor yang lebih murah, ditambah dengan tekanan dari sektor energi.
Dilansir dari Bernama, Pedagang proprietary Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyoroti bahwa pengaruh pasar eksternal memegang peranan krusial dalam koreksi harga kali ini. Menurutnya, ketidakpastian perdagangan internasional juga memberikan beban tambahan pada pergerakan harga komoditas unggulan Malaysia ini.
“The lower soybean oil prices were mainly influenced by external market pressures, particularly the weakness in crude oil prices and uncertainties surrounding the ongoing trade discussions between the United States and China,” ujarnya.
Selain faktor komoditas pesaing, penguatan mata uang Ringgit turut memperburuk keadaan. Ringgit yang menguat ke level 3.9155/9200 terhadap dolar AS membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi para importir luar negeri. Hal ini secara otomatis menekan permintaan ekspor dan memaksa harga kontrak berjangka turun untuk menjaga daya saing di pasar global.
Secara teknikal, pergerakan harga saat ini sedang menguji level-level penting yang menjadi acuan para pelaku pasar. David Ng memberikan proyeksi mengenai rentang harga yang perlu diwaspadai dalam jangka pendek agar para trader dapat mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi.
“We see support at RM4,500 per tonne and resistance at RM4,680 per tonne,” katanya.
Data perdagangan mencatat kontrak Mei 2026 melemah RM75 ke posisi RM4.588 per ton, sementara kontrak Juni 2026 terkoreksi RM73 menjadi RM4.581 per ton. Meskipun harga melandai, volume transaksi justru meningkat menjadi 102.525 lot dengan open interest yang naik ke angka 234.227 kontrak. Hal ini menandakan bahwa minat pasar tetap tinggi di tengah fluktuasi harga yang dinamis akibat sentimen geopolitik dan nilai tukar.***









