BERTUAHPOS — Kabar terbaru dari industri sawit global, bahwa harga CPO (Crude Palm Oil) Malaysia, diperkirakan akan menyusut di kuartal II tahun 2026.
Penurunan ini terjadi karena permintaan ekspor yang mendadak kencang, terutama dari negara-negara pembeli besar yang mulai curi start untuk menjaga ketersediaan stok.
Kondisi ini terjadi karena ketidakpastian gencatan senjata konflik Timur Tengah, menurut para analis, sebagaimana dikutip Bertuahpos dari Bernama, Senin, 13 April 2026.
Sejauh ini, banyak negara importir khawatir akan terjadi gangguan pengiriman atau pasokan, sehingga mereka memilih untuk mengamankan cadangan minyak sawit mereka lebih awal.
Kenanga Investment Bank (Kenanga IB) memperkirakan stok CPO Malaysia akan mendekati rata-rata 10 tahunnya pada kuartal ini karena lonjakan pengiriman ke luar negeri.
Tren positif ekspor sebenarnya sudah terlihat sejak Maret lalu, di mana volume pengiriman mencapai 1,55 juta ton.
Menariknya, kenaikan volume ini dibarengi dengan harga CPO yang makin perkasa, yakni mencapai rata-rata RM4.321 per ton pada Maret dan diprediksi terus merangkak ke level RM4.500 hingga RM4.700 per ton pada bulan April ini.
Meski pengusaha sawit harus menghadapi kenaikan biaya pupuk dan energi, sektor ini diprediksi tetap bakal untung besar. Harga minyak makan dunia yang ikut melonjak membuat CPO tetap menjadi primadona.
Apalagi, konsumsi global diperkirakan tetap tangguh dan tumbuh sekitar 3% hingga 4% tahun ini. Malaysia juga diuntungkan karena memulai tahun 2026 dengan stok tinggi berkat rekor panen di tahun 2025.
Di sisi lain, Public Investment Bank Bhd (PIBB) mencatat bahwa penurunan stok minyak sawit Malaysia kali ini adalah yang paling tajam sejak Maret 2023.
Negara-negara konsumen utama terlihat makin agresif melakukan stockpiling demi mengantisipasi tensi geopolitik yang belum mereda.
Melihat ke depan, harga CPO diprediksi bakal terus mendapat dukungan kuat.
Kabar terbaru, yang diperkirakan juga akan berdampak terhadap harga CPO, ketersediaan ekspor regional makin ketat, ditambah kebijakan Thailand dan Indonesia yang lebih memprioritaskan program biodiesel domestik mereka.
Risiko cuaca akibat fenomena El Nino juga menjadi faktor yang tetap diwaspadai karena bisa memengaruhi produktivitas di masa mendatang.[]









