BERTUAHPOS – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada Selasa kemarin. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak kedelai global bergerak turun, sehingga membalikkan keuntungan yang sempat dicatatkan sehari sebelumnya.
Analis pasar komoditas David Ng menilai, kekhawatiran investor terhadap kenaikan stok menjelang laporan panen utama yang akan dirilis besok turut menekan sentimen perdagangan. “Kami melihat level support berada di RM4.400 per ton dan resistance di RM4.600 per ton,” jelasnya, dilansir dari Bernama.
Pada sesi penutupan, kontrak spot bulan September 2025 tercatat melemah RM11 menjadi RM4.388 per ton. Sementara kontrak Oktober 2025 turun ke level RM4.434 per ton. Untuk kontrak November 2025, harga juga merosot RM9 menjadi RM4.479 per ton.
Kontrak CPO Desember 2025 ikut terkoreksi RM6 menjadi RM4.512 per ton. Kontrak Januari 2026 tercatat melemah RM8 ke posisi RM4.525 per ton, sedangkan kontrak Februari 2026 turun RM4 menjadi RM4.521 per ton.
Volume perdagangan turut menyusut menjadi 46.854 lot dibandingkan 55.479 lot pada sesi sebelumnya. Namun, open interest justru meningkat ke level 252.265 kontrak dari 250.875 kontrak sehari sebelumnya.
Di pasar fisik, harga CPO untuk wilayah Selatan Malaysia pada September 2025 turun RM30 menjadi RM4.400 per ton. Penurunan harga fisik ini semakin mempertegas tekanan di pasar berjangka.
Analis menyebut, arah pergerakan harga dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh data stok minyak sawit Malaysia dan tren harga minyak nabati global, terutama minyak kedelai. Jika tekanan berlanjut, harga CPO berpotensi menguji level support lebih rendah.
Minyak sawit merupakan salah satu komoditas utama ekspor Malaysia. Fluktuasi harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives tidak hanya berdampak pada industri perkebunan, tetapi juga mempengaruhi harga minyak goreng di berbagai negara tujuan ekspor.***









