• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 23, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Harga CPO di Bursa Malaysia Berakhir Beragam, Sentimen Dipengaruhi Tarif Impor India dan Penguatan Minyak Kedelai

Harga CPO di Bursa Malaysia berakhir variatif dipengaruhi pembelian murah dan perubahan tarif impor India yang dorong pemulihan harga.

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
18 November 2025
Harga CPO di Bursa Malaysia

Kelapa sawit berondolan | Foto: Ilustrasi / Canva.

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS — Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup variatif pada Senin, 17 November 2025. Harga ini dipengaruhi oleh aktivitas pembelian murah—setelah aksi jual pekan sebelumnya—serta menguatnya harga minyak kedelai sehingga memperkuat sentimen pasar.

Para pelaku pasar melihat ada sinyal positif dari rebound harga minyak nabati global, terutama minyak kedelai, kata pedagang minyak sawit David Ng, seperti dikutip dari Bernama, Selasa, 18 November 2025.

Dia menyebut, kondisi itu berhasil memberikan dukungan teknikal terhadap harga CPO yang sempat melemah di awal perdagangan. Menurutnya, support harga CPO berada di level RM4.100 per ton dan resistance pada RM4.280 per ton.

Dukungan fundamental juga datang dari India sebagai salah satu importir CPO terbesar dunia. Kepala penelitian komoditas Sunvin Group di Mumbai, Anilkumar Bagani, menjelaskan bahwa penurunan tarif impor dua mingguan India membantu harga CPO bangkit dari tekanan sebelumnya.

India menurunkan tarif impor CPO dari US$1.113 menjadi US$1.066 per ton, sehingga bea masuk bersih menjadi lebih rendah dibandingkan minyak kedelai. Kondisi ini turut memperkuat daya saing minyak sawit di pasar India, sekaligus memberi sentimen positif bagi pelaku pasar di Malaysia.

Selain itu, pelemahan ringan ringgit terhadap dolar AS juga memberikan dorongan tambahan. Ringgit tercatat bergerak pada kisaran 4,1480/1515 dibandingkan penutupan akhir pekan di 4,1290/1345. Kurs yang lebih lemah biasanya meningkatkan daya tarik CPO karena membuat harga minyak sawit berdenominasi dolar menjadi lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri.

Pada sisi harga kontrak, pergerakan bervariasi terjadi di seluruh bulan pengiriman. Kontrak spot Desember 2025 naik RM18 menjadi RM4.118 per ton. Januari 2026 turut menguat RM13 menjadi RM4.141 per ton, sementara Februari 2026 meningkat RM6 menjadi RM4.151 per ton.

Namun, kenaikan tidak merata karena kontrak Maret dan April 2026 justru bergerak negatif. Kontrak Maret turun RM4 menjadi RM4.155 per ton dan April melemah RM12 ke level yang sama, RM4.155 per ton. Untuk kontrak Mei 2026, harga turun RM13 menjadi RM4.152 per ton.

Aktivitas perdagangan turut meningkat signifikan. Volume perdagangan naik menjadi 106.354 lot dibandingkan 92.204 lot pada hari sebelumnya. Open interest juga bertambah menjadi 271.451 kontrak, naik dari 269.476 kontrak. Peningkatan ini mencerminkan adanya minat baru pelaku pasar yang merespons perubahan sentimen global.

Sementara itu, harga fisik CPO untuk pengiriman Desember Selatan tercatat naik RM50 menjadi RM4.130 per ton. Kenaikan harga fisik ini sejalan dengan pergerakan pasar berjangka yang mendapat dorongan dari kebijakan impor India serta tren kenaikan harga minyak nabati global.

Secara keseluruhan, pasar minyak sawit Malaysia pada 17 November 2025 menghadapi kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang saling memengaruhi. Penguatan harga minyak kedelai, penurunan tarif impor India, serta depresiasi ringgit menjadi penopang utama pemulihan harga CPO menjelang akhir November.***

Tags: kepala sawitPasar
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Harga Emas Dunia Naik, Analis Bidik USD 5.000
Ekonomi

Harga Emas Diproyeksi Tembus US$5.200, Arus ETF Jadi Penentu

...

Read moreDetails
Berikut Ini Tantangan Utama Riau dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Ekonomi Kerakyatan

OJK Kembangkan Asuransi Karbon untuk Perkuat Pasar Karbon Nasional

Dolar Bikin Harga Emas Antam Terkunci?

Harga Emas Menguat Didorong Anjloknya Harga Minyak

IHSG Hari Ini Menguat Tipis, Saham Tambang Pimpin Reli

IHSG Hari Ini Menguat Tipis, Saham Tambang Pimpin Reli

Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Ketidakpastian The Fed

Rupiah Tertekan Harga Minyak dan Ketidakpastian The Fed

Perkiraan Harga Emas Turun, Commerzbank Pangkas Proyeksi

Perkiraan Harga Emas Turun, Commerzbank Pangkas Proyeksi

Next Post
‘Bersama Pulihkan Riau’ — Roots Up Aksi Respon COP 30

‘Bersama Pulihkan Riau’ — Roots Up Aksi Respon COP 30

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.