BERTUAHPOS – Harga minyak kelapa sawit (CPO) di bursa berjangka Malaysia menguat pada perdagangan Jumat, 16 Mei 2025. Menguatnya harga CPO didorong oleh data ekspor yang solid meskipun harga minyak nabati lainnya mengalami tekanan di bursa global.
Adapun kenaikan ini menandai potensi kenaikan mingguan pertama setelah dua pekan berturut-turut mengalami penurunan.
Mengutip Reuters, harga CPO 2025 kontrak pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sebesar 6 ringgit atau 0,16% ke level 3.862 ringgit per metrik ton (sekitar USD 905,30) pada jeda perdagangan tengah hari. Secara mingguan, harga tercatat naik sekitar 1,26%.
“Data ekspor yang cukup kuat untuk periode 1–15 Mei menjadi penopang utama harga,” ujar seorang trader di Kuala Lumpur.
Menurut laporan dua lembaga pemantau, AmSpec Agri Malaysia dan Intertek Testing Services, ekspor produk minyak sawit Malaysia selama paruh pertama Mei diperkirakan melonjak antara 6,6% hingga 14,2% dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan ini memberi sentimen positif terhadap kontrak CPO meskipun tekanan datang dari pasar minyak nabati lainnya.
Sementara itu, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,84%, dan minyak sawit untuk pengiriman Juni melemah 0,91%. Di bursa Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai juga mencatat penurunan tajam sebesar 1,7%.
Sebagai komoditas yang bersaing di pasar minyak nabati global, harga CPO sering bergerak seiring dengan fluktuasi minyak kedelai dan minyak nabati lainnya.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga menguat pada Jumat, membalikkan pelemahan sesi sebelumnya. Penguatan ini didukung oleh optimisme terhadap hubungan dagang Amerika Serikat dan China, meskipun pasar tetap waspada terhadap potensi peningkatan pasokan dari Iran.
Secara teknikal, analis memproyeksikan harga CPO masih berpeluang melemah ke kisaran 3.763 hingga 3.804 ringgit per metrik ton, karena sebelumnya sempat menembus level support di angka 3.870 ringgit.
Kinerja harga CPO 2025 yang positif dalam pekan ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar, di tengah volatilitas harga minyak nabati global dan dinamika perdagangan internasional yang terus berkembang.***









