• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Senin, November 2, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Cerita Legimin, Inilah Alasan Mengapa Masyarakat Siak Bisa Kaya dengan Sawit

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 Mei 2017
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM (BPC), SIAK – Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar biodiesel.

Industri Kelapa Sawit di Siak menghasilkan 315.825 ton CPO dan 60.975 ton minyak inti sawit pertahun. Berdasarkan data tahun 2000, luas areal sawit di Siak mencapai 107.420 Ha dan dalam waktu 2 tahun akan dihasilkan CPO lebih dari 500.000 ton pertahun, mengingat semakin bertambahnya areal pengembangan dan meningkatnya tanaman yang mulai menghasilkan tandan buah sawit.

Di Siak sendiri perkebunan sawit sangat mendominasi dengan jumlah 232.858,11 hektare dari data terakhir tahun 2010 dan secara signifikan terus bertambah jumlahnya.

Salah satu petani sawit bernama Legimin yang tinggal di Kampung Sialang Baru Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak yang sudah bertani sawit sejak tahun 1985 bersama petani lainnya.

“Awal mula kami bertani sawit di tahun 1985 banyak sekali yang kami hadapi sampai harus menanam hingga tiga kali penananaman, karena dirusak binatang liar seperti babi dan gajah,” ujarnya kepada bertuahpos.com saat didatangi di kediamannya.

Baca: Perkebunan Kelapa Sawit di Rohil Sangat Mendominasi

Para petani sawit di Siak merupakan masyarakat transmigrasi dari berbagai daerah pada zaman presiden Suharto.

“Awalnya banyak yang mengeluh dan merasa pesimis dengan tanaman sawit ini kemudian mereka menjualnya dan pulang kampung, sekarang mereka sangat menyesal melihat hasil sawit yang menggiurkan,” ujar Legimin

Legimin dan lainnya memulai menanam sawit pada tahun 1985 di lahan seluas 2 hektare.

“Untuk perawatan sendiri sawit dibilang sangat mudah karena hanya butuh penyiangan 3 bulan sekali dan pemupukan hanya 2 kali dengan 4 jenis pupuk yang berbeda seperti Urea, KCL, Kapur dan RP,” tambahnya.

Tanaman sawit sendiri mulai menghasilkan pada usia tanam 4 tahun, dengan hasil pemanenan 2 ton satu kali panen tergantung perawatan dan akan terus bertambah hasil dan beratnya.

Sedangkan masa produktif sawit sendri akan mencapai puncaknya pada tahun ke delapan sampai ke lima belas.

“Untuk masa produktif sawit sendiri pada umur 8 sampai 15 tahun, di tahun segitu buah sedang banyak banyaknya mencapai 6 ton ke atas sekali panen,” tambahnya.

Perawatan sawit dikatakan bagus bila dalam 1 tahun sawit dapat menghasilkan 30 ton pada lahan 1 hektare.

Saat ini Legimin menjadi petani sawit yang sukses dengan memiliki lebih dari 8 hektare sawit yang siap panen.

“Alhamdullilah saat ini untuk lahan sawit saya sudah bisa besarkan rumah, menyelesaikan kuliah 2 anak, membeli mobil dan kebutuhan rumah lah yang paling penting,” tambahnya.

Sawit merupakan sumber perekonomian yang begitu besar bagi seluruh masyarakat di Indonesia dan salah satunya Legimin yang telah membuktikannya.

Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat di Riau tidak bisa lepas dari sawit. Sawit sudah menjadi tanaman penghidupan yang memberi peran penting terhadap perekonomian masyarakat.

Di Riau sendiri, ada banyak Legimin lain yang juga sama, menggantungkan biasa sekolah, makan istri, dan kepulan asap dapur dari berkebun sawit. Dari sekelumit cerita ini, harusnya menjadi pertimbangan pemerintah untuk terus berupaya menggempur isu Eropa.

Selain masalah lingkungan, pemerintah perlu melakukan kajian yang lebih dalam terhadap dampak sosial ekonomi kemasyarakatan. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya, jika tanaman sawit itu malah diganti dengan kebun bunga matahari. (bpc13)

Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

4 Pilihan Cushion Lokal untuk Kulit Berminyak, Tetap Flawless dan Tahan Lama
Lifestyle

4 Pilihan Cushion Lokal untuk Kulit Berminyak, Tetap Flawless dan Tahan Lama

...

Read moreDetails
Rekomendasi 4 Sepatu Gym Pria Terbaik Lengkap Harganya

Rekomendasi 4 Sepatu Gym Pria Terbaik Lengkap Harganya

Benarkah Bentuk Bumi Berubah akibat Mencairnya Es Kutub?

Benarkah Bentuk Bumi Berubah akibat Mencairnya Es Kutub?

Peluang Ekonomi Masyarakat Lewat Minyak Jelantah

Peluang Ekonomi Masyarakat Lewat Minyak Jelantah

Polemik Perebutan Takhta, Pendiri Lens Technology Kembali Jadi Wanita Terkaya China

Pendiri Lens Technology Kembali Jadi Wanita Terkaya China, Segini Duitnya

Meski Berusaha Bangkit, Harga CPO Masih Belum Pulih

Meski Berusaha Bangkit, Harga CPO Masih Belum Pulih

Next Post

Humas RSUD Arifin Achmad : Kaca Retak, Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.