BERTUAHPOS — Puluhan peserta antusias mengikuti kegiatan Silaturahmi dan Bincang-Bincang Melayu yang digelar Yayasan Melayu Nusantara (YMN) di Cafe and Resto Kendil Mas, Jalan Fatmawati Raya, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Januari 2026.
Acara bertema “Merajut Persaudaraan, Memberi Makna” ini, dibuka oleh Ketua Umum YMN Djonieri, dilanjutkan sambutan Dewan Pembina YMN Raja Bambang Sutikno. Kegiatan tersebut menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus ruang diskusi kebudayaan Melayu menjelang Bulan Suci Ramadhan.
Silaturahmi dihadiri sejumlah tokoh YMN dan pengurus, di antaranya pendiri YMN Wirman, Firmansyah, Rusdi Malin, serta mantan Ketua YMN Emmy Rahman. Hadir pula jajaran pengurus inti YMN, termasuk Ketua I Emmalia Natar, Ketua II Wan Muhammad Hasyim, Ketua III Setri Yasra, Sekretaris Jenderal Muchlis Ishaq, dan Bendahara Umum Aslan Wiguna.
Ketua Umum YMN Djonieri mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperkuat persaudaraan, tetapi juga menambah wawasan kemelayuan melalui dialog intelektual. Bincang-bincang menghadirkan Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Prof. Dr. Anter Venus, M.A. Comm, yang sekaligus membedah bukunya Filsafat Komunikasi Orang Melayu.
“Kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai komunikasi orang Melayu, khususnya di rantau yang turut memengaruhi karakter masyarakat Indonesia,” ujar Djonieri.
Dewan Pembina YMN Raja Bambang Sutikno menilai kegiatan tersebut sangat positif dan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ia mengusulkan agenda bincang-bincang Melayu digelar secara periodik dengan tema yang terus dikembangkan.
“Perlu dialog dan sinergi berkelanjutan agar budaya Melayu semakin dikenal luas. Kegiatan seperti kunjungan ke Museum Melayu juga penting untuk memahami sejarah dan peninggalan Melayu,” katanya.
Dalam paparannya, Anter Venus menjelaskan bahwa komunikasi orang Melayu sangat menekankan pendekatan emosional dan rasa persaudaraan. Hal ini tercermin dari kebiasaan memanggil orang lain dengan sapaan kekeluargaan, meskipun tidak memiliki hubungan darah.
“Orang Melayu memperlakukan orang lain seperti saudara. Kata ‘hati’ sangat dominan dalam ungkapan Melayu dan menjadi dasar komunikasi yang berempati,” jelas Anter.
Ia menyebutkan, berdasarkan penelitian, terdapat ratusan ungkapan Melayu yang menggunakan kata “hati”, seperti buah hati, hati nurani, dan sagu hati. Hal tersebut menunjukkan kuatnya peran nilai emosional dalam budaya komunikasi Melayu.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan Muchlis Ishaq menegaskan acara ini dikemas santai namun tetap edukatif. Peserta terlihat aktif dan antusias mengikuti diskusi selama berlangsungnya acara.
“Tidak sekadar silaturahmi, peserta juga mendapatkan ilmu tentang filsafat komunikasi orang Melayu yang sangat relevan dengan kehidupan sosial saat ini,” ujar Muchlis.
Bincang-Bincang Melayu berlangsung selama sekitar satu jam dan dipandu oleh Ketua III YMN Setri Yasra. Acara ditutup dengan makan siang bersama dan hiburan dalam suasana kekeluargaan.***
Yayasan Melayu Nusantara









